Terdepan Dalam Memberdayakan Anak Hingga Pelosok Desa

Belajar dari Ikhtiarnya Maryam dan Hajar (Khutbah Idul Fitri Ketua Umum YMI)


Assalamu’alaikum wr.wb

Allahu Akbar… 9x

Ba’da Takbir dan Tahmid

Jamaah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah SWT

Hari ini kita diberi kesempatan oleh Allah untuk menikmati Hari Raya Idul Fitri. Tentu kita masih ingat bahwa dua tahun lalu (tahun 2020) saat pandemi covid-19 merajalela, banyak dari kita yang melaksanakan shalat Id di rumah masing-masing. Banyak diantara kita yang dipanggil Allah SWT. Wafat di masa pandemi.

Saat ini, meski pandemi belum sepenuhnya tuntas, Allah masih kasih kita kesempatan, untuk hidup, untuk bernafas, untuk mengumpulkan bekal agar diperjalanan kita menuju akhirat, bekal kita cukup untuk mendapat rahmat Allah. 

Kenapa kita ingin mendapat rahmat Allah, karena dengan rahmat inilah kita berkesempatan masuk ke dalam surga Allah. Sehebat apapun amal ibadah kita, tak akan cukup untuk “membeli” surga Allah. Karena surga Allah terlalu mewah, sangat luas, sangat nikmat, tak akan mampu seluruh ibadah kita untuk membelinya. Itulah mengapa kita butuh rahmat Allah SWT.

Hari ini, ketika kita masih dapat kesempatan hidup di dunia, jangan pernah sia-siakan kesempatan ini. Jangan sampai kejadian seperti yang diungkapkan Allah dalam surah Al-Fathir ayat 37, “Wahum Yastarikhuna Fihaa, Rabbana akhrijna na’mal sholeha..” (Yaa Allah keluarkan aku dari tempat ini, maka aku akan beramal sholeh). Mereka ini berteriak-teriak. Mereka kaget ada di tempat itu. Mereka ingin keluar.

Cerita yang hampir mirip juga Allah kisahkan dalam surah Al-Munafiqun ayat 10, “Fayaqula rabbi laula akhartani ila ajalin qarib, fa ashoddaqo wa akum minalshholihin…” (mereka berteriak juga… minta ditunda ajalnya, agar diberi kesempatan hidup lagi, sehingga mereka akan bersedekah). 

Gambaran yang mirip juga Allah ceritakan dalam surah An-Naba ayat 40 (ayat terakhir), Wa yaqulul kafiru yaaa laitani kuntu turoba… (alangkah baiknya bila dulu aku adalah tanah). Mereka menyesal kenapa ada ditempat ini (akhirat) tapi tidak membawa bekal amal ibadah.

Mereka semua ini digambarkan berteriak-teriak saat di akhirat…kenapa? Karena tak sempat membawa bekal, tidak sempat beribadah, padahal Allah kasih usia panjang… tapi mereka merasa “Lam yalbasu illa asiyatan aw dhuha…”  (ini dijelaskan dalam surat An-Naziat ayat terakhir, atau ayat 45). Artinya, Hidup di dunia ini hanya sebentar saja, hanya seperti waktu pagi atau sore hari.

Allahu akbar 3x…. Jamaah Shalat Idul Fitri yang Allah muliakan...

Kita berharap, Ramadhan yang baru saja kita lewati ini, kita mendapatkan bekal penting yang akan kita bawa saat menghadap Allah kelak. Kita berharap bekal di Ramadhan ini dapat memancing turunnya rahmat Allah untuk kita. Saya ucapkan selamat bagi siapa saja yang di Ramadhan kemarin berhasil menyelesaikan puasanya sebulan penuh, menuntaskan shalat tarawihnya sebulan penuh, dan menuntaskan tilawah Qur’annya minimal khatam 1 kali (atau mungkin ada yang 2 kali, 3 kali bahkan lebih dari 5 kali).

Tetapi, kami perlu mengingatkan bahwa, meski Ramadhan telah berakhir, bukan berarti ibadah kita berakhir. Karena Allah memerintahkan kita, "Wa’bud Rabbaka Hatta Ya’tiyakal Yaqin." Ini ada dalam surah Al-Hijr ayat 99 (ayat terakhir).

HIkmah dari ayat ini meminta kita untuk terus berikhtiar dalam beramal, jangan sampai melemah. Jangan kasih kendor. Bila Ramadhan sdh khatam Al-Qur’an 2 kali, 3 kali bahkan lebih dari 5 kali, jangan sampai selepas Ramadhan jadi jatuh dan jauh dari Al-Qur’an. Ikhtiar terus, optimalkan terus, dalam setiap momen apapun (Ramadhan ataupun bukan Ramadhan), dalam setiap situasi yang ringan maupun berat, jangan berhenti berikhtiar. 

Saat ringan, mungkin enak bagi kita untuk berikhtiar, tapi saat situasi berat, belum tentu kita sanggup menjalaninya. Contoh tauladan dalam hal berikhtiar adalah Maryam. Ini diceritakan Allah dalam surah Maryam ayat 25, "Wahuzzi ilaiki bi jiz’in Nakhlah, Tusaqit alaiki ruthoban Janiyya." Allah SWT perintahkan Maryam untuk menggoyang pohon kurma itu. Padahal saat itu Maryam dalam keadaan kesakitan, karena bayi dalam kandungannya sudah 9 bulan. Bahkan Maryam sudah mengungkapkan ketidaksanggupannya kepada Allah SWT.

Tapi Allah SWT masih suruh Maryam untuk berikhtiar, yaitu dengan menggoyang pohon kurma. Padahal bisa saja Allah mengirim langsung buah-buahan dan makanan kepada Maryam, tinggal Kun Fayakun. Mengapa begitu? Karena Allah ingin melihat ikhtiar Maryam dalam memenuhi takdir Allah SWT.

Maryam…tetap disuruh ikhtiar oleh Allah, padahal Maryam adalah manusia istimewa yang Allah anugerahkan banyak keunggulan yang tidak didapatkan manusia lainnya, yaitu :

1. Maryam adalah satu-satunya wanita yang hamil, mengandung dan melahirkan tanpa disentuh satu pun laki-laki. 

2. Maryam adalah satu-satunya wanita yang manusia ber-bin kepadanya (bin nya kepada wanita). Ini diluar kebiasaan, diluar konsep kemanusiaan. Dalam silsilah nasab, seseorang itu dilekatkan kepada turunan ayahnya : Joko bin Mahmud, Maya binti Faisal, dan seterusnya. Bahkan Rasulullah SAW Muhammad pun bin nya kepada ayahnya. Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Tapi anak Maryam, yaitu Isa, bin nya kepada Ibunya. “Waiz qola Isabnu Maryam Yaa Bani Israil.. “ (Ash-Shaf ayat 6), dan “Yaa ayuhalladzina amanu kunu anshorollah kama qola isabnu Maryam…” (Ash-Shaf ayat 14).

3. Maryam adalah satu-satunya wanita sahabiyah pejuang yang namanya tercantum dalam Al-Qur’an. Bahkan istri Rasulullah (Khadijah, Aisyah) dan puteri Rasulullah (Fatimah), tidak Allah sebut dalam Al-Qur’an. Dalam surah Al-Ahzab ayat 59, Allah hanya sebut “Azwajika” (istrimu Ya Rasulullah) “Qul lil azwajika wabanatika…” Nama Fatimah pun tidak disebutkan oleh Allah (Allah hanya menyebut “banatika” artinya anakmu). Hawa (istri nabi Adam) juga tidak disebut namanya oleh Allah. Dalam surat Al-Baqarah ayat 35, ketika Allah mempersilahkan Adam menghuni surga, Allah menyebut “Wa qulna yaa adamuskun anta wa zawjukal jannah…” (apakah disebut nama Hawa? tidak). Berikutnya, Asiah…istri Fir’aun. Kita tahu bagaimana hebatnya perjuangannya menyelematkan nabi Musa yang kemudian menumbangkan Fir’aun. Tapi Allah hanya menyebut Imroatul Fir’aun (tidak menyebut nama Asiah dalam Al-Qur’an). Imroatul Fir’aun : istri Fir’aun. Ini tertera dalam Al-Qur’an, “Wadharaballahu matsalalilldzina amanum ra’ata firaun…” (Surah At-Tahrim ayat 11).

Sudah sebegitu istimewanya Maryam, Allah masih suruh Maryam untuk berikhtiar. 

Selain Maryam, ada juga kisah Sayyidina Hajar (istri Nabi Ibrahim a.s). Hajar bersama Ismail diantar Nabi Ibrahim ke sebuah tempat yaitu Mekkah Al-Mukarromah. Tempat yang tandus, hanya ada batu cadas kanan-kiri, disekelilingnya hanya pasir abu yang panas. Jangankan air dan makanan, selevel tumbuhan pun tak ada.

Hajar pun berikhtiar mencari air. Dia lihat fatamorgana air di bukit Shofa, dia pun berlari kesana. Tapi tak menemukan air. Lalu lihat fatamorga air di bukit Marwah, Hajar pun berlari kesana. Tapi tak juga menemukan air. Sampai 7 kali bolak-balik, Hajar tak mendapatkan air.

Ternyata, air itu didapatkan dari hentakan kaki anaknya, Ismail, yang sedang kehausan. Bukan di bukit shofa, bukan di bukit Marwah. 

Ini menunjukkan, seringkali ikhtiar kita itu tak harus berbalas linear. Ini yang disebut “Wayarzuqhu Min Haitsu Laa Yahtasib.” (Rezeki yang datangnya dari arah yang tidak disangka-sangka). Seringkali kita merasa ikhtiar mencari rezeki sudah optimal, pergi pagi pulang malam, ternyata dapat uang hanya pas-pasan. Boleh jadi, rezeki yang Allah kasih itu berupa anak yang sholeh-sholehah, istri yang setia taat pada suami, dan rumah yang tentram dan nyaman ditempati.

Hajar pun lalu mengambil air yang keluar didekat kaki Ismail itu, lalu mengatakan, “Zam-zam…” (berkumpulah jangan pernah berhenti). Lewat doa dan ikhtiar Hajar itu, kini air zam-zam dari hentakan kaki Ismail itu terus mengalir, dinikmati oleh seluruh penduduk dunia khususnya jamaah Haji dan Umroh, dan tidak akan pernah berhenti mengalir hingga hari kiamat kelak. Ikhtiar Hajar, dan kesungguhannya, berbalas dengan kebaikan yang tak pernah berhenti mengalir.

Karena itu, dari kisah Maryam dan Hajar ini, memberikan hikmah bahwa bila kita ingin mendapatkan rahmat Allah, yaitu dengan usaha, ikhtiar yang kuat, dalam setiap momen, seberat apapun momen itu.



Allahu Akbar 3x...

Hikmah berikutnya dari Surah Al-Hijr ayat 99 ini adalah pentingnya istiqomah. Istiqomah ini bukan sesuatu yang mudah. Tidak ada satu pun jaminan bahwa hidup kita akan berakhir dengan Husnul Khatimah, bahkan seorang nabi pun, meminta agar jadi orang istiqomah. Ini ada dalam doa para nabi, “Allahumma Inna Nas’alukal Huda, Wattuqo Wal’Afwa Wal Ghina.” Nabi saja minta hidayah…. minta istiqomah, minta agar hidupnya berakhir dengan kebaikan-kebaikan.

Orang yang istiqomah, akan tetap beribadah meski tidak lagi ada Ramadhan. Mereka bukan Hamba Ramadhan, tapi Hamba Allah. Ramadhan boleh berakhir, tapi Allah tidak pernah berakhir. Ada analogi makan tempe yang cukup menarik untuk menggambarkan istiqomahnya seseorang. Bila di hari pertama kita disuguhi tempe (untuk makan bersama nasi, ayam goreng, ikan, sayur dan sebagainya). Di hari kedua, setiap ada makanan selalu ada tempe. Hari ketiga pun, meski hanya nasi putih plus tempe kita tetap senang. Hari ke-4 sampai hari ke-30 pun seperti itu. Selalu ada tempe.

Lalu suatu saat masuk hari ke-31, hari ke-32 dan seterusnya. Tiba-tiba di hari-hari tersebut, kita tidak disuguhi lagi tempe itu. Maka kita pun bertanya, “Mana tempenya..” Kita merindukan tempe, yang telah menemani dan menyenangkan hidup kita selama 30 hari sebelumnya. Demikian juga dengan Ramadhan, kita akan senantiasa merindukan ibadah shalat malam, tadarus Al-Qur’an, puasa dan ibadah lainnya, karena selama 30 hari Ramadhan ini kita disuguhi kenikmatan-kenikmatan ibadah itu.

Allahu Akbar 3x... Maasyirol Muslimin Rahimakumullah...

Untuk bisa mewujudkan Wa’bud rabbaka hatta ya’tiyakal yaqin ini, perlu 1 sifat yang ada dalam diri kita, yaitu sifat ikhlas. Mengharap hanya kepada Allah saja, jangan sekali-kali menunggu pujian orang, meminta diucapkan terima kasih, berharap orang yang kita bantu itu, mengagumi kita.

Kalau itu yang kita harapkan, kita akan terjebak dalam riya dan sum’ah, yang semuanya itu tidak akan pernah mendatangkan rahmat Allah Azza Wa Jalla. Bahkan, seringkali sifat baik kita, justru di cibir orang, di nyinyir orang. “Ihhh, itu orang sok alim,” “ahhh… itu dia kan ke Masjid cuma kalau ada mertuanya datang…” dan berbagai cibiran lainnya.

Ketahuilah bahwa, dalam beramal kebaikan ini, jangan karena ingin dapat penghargaan manusa, sehingga kita tidak terjebak dalam pandangan manusia. 

Karena kita ini adalah orang biasa bagi orang yang tidak mengenal kita.

Tapi kita orang menarik, bagi orang yang memahami kita

Kita adalah orang istimewa, bagi mereka yang mencintai kita

Tapi kita adalah pribadi yang menjengkelkan, bagi orang yang hatinya penuh iri

Dan kita dianggap orang jahat, bagi orang-orang yang hatinya dengki

Karena itu, setiap orang punya pandangan masing-masing terhadap kita. Maka tak usahlah berlelah-lelah agar tampil baik dimata orang lain. 

Karena mencari ridho manusia adalah tujuan yang tak akan pernah tercapai, tapi mencari ridho Allah, itu tujuan yang pasti sampai.

Mari kita tinggalkan segala niat yang mencari ridho manusia, fokus lah saja pada upaya mencari ridho Allah.

Bila kita fokus mencari ridho Allah, niscaya kita akan menjadi hamba Allah yang akan menyembah Allah hingga hari akhir kita, sebagaimana dalam surah Al-Hijr ayat 99 tadi, Wa’bud rabbaka Hatta Ya’tiyakal yaqin.

Allahu Akbar 7x

Innalallah wa malaikatu yushollu alannabi, yaa ayyuhalladzina amanu shollu alaihi wasallim mutaslima

Yaa Allah, hari ini kami berkumpul, dalam rangka memenuhi panggilan-Mu, dalam rangka mensyukuri nikmat Idul Fitri yang engkau anugerahkan kepada kami. Jadikan kami hamba-Mu yang selalu bersyukur, selalu taat dalam setiap perintah, selalu kuat dalam menjauhi larangan-Mu.

Yaa Allah, kami sadar amal ibadah kami tak cukup untuk membeli surga-Mu, kami tahu bahwa keimanan kami tak mampu menggapai ridho-Mu, karena itu rahmati kami Yaa Allah, karena dengan rahmat-Mu, kami dapat mengetuk pintu surga-Mu.

Yaa Allah, kuatkan kami dalam menghadapi tantangan hidup yang serba sulit saat ini. Jangan Kau bebankan sesuatu yang tak sanggup kami memikulnya, tunjuki kami Yaa Allah, jalan yang mudah, hidup yang berkah, muliakan dengan cahaya-Mu.

Allahumaghfirlana wali walidaina warhamhuma kama rabbayana shogirah… Yaa Allah, hingga saat ini, kami belum mampu membalas kebaikan kedua orang tua kami, bahkan hingga ayah dan ibu kami engkau panggil, tak mampu kami bayar pengorbanannya kepada kami. Hanya doa yang bisa kami panjatkan untuk mereka Yaa Allah, sayangilah keduanya, muliakan hidupnya Yaa Allah, ampuni dosanya Yaa Allah, lapangkan alam kuburnya Yaa Allah (bagi orang tua kami yang sudah wafat). 

Rabbana atina fii dunya hasanah, wafil akhirati hasanah waqina azdabannar.

Ibadalallah, Innallaha ya’muru bil adli wal ihsan wa ita izil kurba wayanha anil fahsa’i wal mungkar yaizukum laallakum tazakkarun, waladzikrullahi akbar. Nasrum minallah wa fathun qarib.

Wassalamu’alaikum wr.wb

0 Response to "Belajar dari Ikhtiarnya Maryam dan Hajar (Khutbah Idul Fitri Ketua Umum YMI)"

Post a Comment