Membuat Rencana adalah Ibadah (Khutbah Jumat Ketua Umum YMI, 1 Januari 2021)



Ba'da Tahmid dan shalawat

Hari ini, 1 Januari 2021 kita masih diberikan kesempatan hidup oleh Allah SWT, sudah selayaknya peluang ini kita optimalkan untuk meraih cinta Allah SWT.

Awal tahun, adalah waktu yang tepat untuk membuat perencanaan, menyusun kembali program kita untuk tahun 2021. Allah SWT berfirman, "Hai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah..." (QS. Al-Hasyr ayat 18).

Surat ini merupakan satu-satunya surat yang dimulai dengan perintah taqwa, dan diakhiri dengan perintah taqwa juga. Ini menunjukan betapa pentingnya membuat rencana, yang dalam surat tersebut dinyatakan "Waltanzurnafsun maa qaddamat lighod" (Mempersiapkan untuk esok hari), perintah Allah ditengah-tengah kalimat perintah taqwa.

Berarti Allah SWT memerintahkan kita untuk membuat rencana. Dengan demikian ketika kita membuat rencana, itu adalah ibadah yang kita lakukan, dalam rangka taat kepada Allah.

Saat membuat rencana dan target pribadi untuk tahun 2021, itu adalah ibadah. Ketika membuat program untuk keluarga juga masuk kategori ibadah. Juga ketika kita rapat kerja membuat rencana dan program, Insya Allah bernilai ibadah.

Artinya, jangan sampai muncul dalam benak kita, rasa malas untuk menghadiri rapat membuat rencana, dengan alasan "Ah..paling sulit direalisaikan seperti tahun-tahun kemarin.." atau menyatakan "sudahlah, saya malas ikut rapatnya, yang penting kan saya melaksanakan keputusannya.."


Kalau ini yang ada dalam paradigma berfikir kita, bisa jadi telah kehilangan keberkahan dalam ibadah membuat perencanaan itu. Karena setiap ibadah, pasti akan melahirkan kebaikan-kebaikan, termasuk ibadah membuat perencanaan ini, baik rencana individu, keluarga ataupun organisasi.

Dengan membuat perencanaan berarti kita telah melakukan satu tindakan manajemen, yang ujungnya adalah efisiensi dari pekerjaan yang akan kita lakukan. Misalnya begini. Kita punya rencana bangun rumah, karena memiliki tanah 200 meter, dan punya uang Rp.200 Juta. 

Dengan uang sejumlah Rp.200 juta tersebut, tentu tak cukup untuk membangun rumah di seluruh luas tanah 200 meter. Kalau dipaksakan, nanti hanya rumah tanpa atap (karena tidak selesai, dananya tidak cukup). Bangunan rumah hanya ada dinding. Ini yang disebut tidak efisien. Atau tidak bermanfaat, karena rumah begitu tidak bisa digunakan.

Lain halnya bila kita membuat rencana, yaitu dengan membangun rumah seluas 100 meter dulu, dengan dana Rp.200 juta itu. Dana sebesar ini akan cukup untuk membangun rumah, minimal sudah bisa digunakan untuk tinggal, tidur, berteduh, menjadikannya sebagai rumah Qur'an, dan sebagainya. Manfaatnya sudah terasa.


Jamaah sidang jumat yang berbahagia

Lalu ada yang bertanya, bagaimana kalau rencana itu gagal? Karena takdir Allah tidak seperti yang kita rencanakan. Disinilah pentingnya kita memahami konsep takdir dan ikhtiar.

Takdir adalah hak Allah, sedangkan ikhtiar adalah kewajiban kita.

Jadi ketika apa yang kita rencanakan, kita lakukan, kita targetkan, ternyata tak sesuai dengan takdir Allah, disitu sudah ada kebaikan dari ikhtiar yang kita lakukan. 

Analoginya begini. Orang yang sudah berikhtiar, dapat hasil A. Lalu ada orang tidak berikhtiar, dapat hasil A juga. Disini hasilnya memang sama, tapi nilai kebaikannya berbeda, keberkahannya juga berbeda.

Dalam hal ikhtiar menjaga diri dari wabah covid misalnya. Memang tidak ada jaminan bahwa orang yang menjaga jarak dan memakai masker, maka tak akan terkena covid. Tak ada yang menjamin itu. 

Sama halnya dengan, belum tentu orang yang tidak memakai masker dan tidak menjaga jarak akan kena covid, belum tentu ini terjadi. 

Malah bisa jadi, yang memakai masker malah kena covid, yang tidak memakai masker malah tidak kena penyakit covid. Karena Allah sudah mentakdirkan siapa-siapa yang akan diujinya dengan wabah ini.

Tapi sebaik-baik orang, adalah mereka yang berikhtiar, membuat pertahanan diri dari bahaya wabah. Bila pun nanti dia terkena virus covid, lalu wafat, Insya Allah dapat pahala syahid, dari kebaikan atas ikhtiarnya.

Barokallahu lii walakum

Adhi Azfar, Ketua Umum YMI

0 Response to "Membuat Rencana adalah Ibadah (Khutbah Jumat Ketua Umum YMI, 1 Januari 2021)"

Post a comment