Tak Menyerah oleh Pandemi dan Resesi, Devi Buka Usaha Warung Seblak untuk Biaya Kuliah


Di saat teman-teman sebayanya sibuk mengeluh karena dampak pandemi yang berkepanjangan, ditambah resesi ekonomi yang memukul daya beli, Devi dan dua orang temannya berinisiatif merintis usaha warung seblak untuk membiayai kuliah dan kebutuhan sehari-hari.

Santri YMI Kuningan ini tak mau menyerah dengan kondisi yang makin berat. Jualan seblak, otak-otak, baso, sosis, dan teh aneka rasa dilakoninya. Devi jualan di depan rumah salah satu warga di gang Blok Dawolong, Desa Margamukti, Kecamatan Cimahi, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. 

Bergantian dagang bersama 2 rekannya. Buka mulai pukul 09.00 pagi hingga pukul 22.00 malam. 

Sebenarnya Devi sejak SMA sudah mulai jualan di warung milik saudaranya. Bahkan sebelum pandemi pun suka membuat makanan nuget tahu dan bola ubi, lalu dijual ke koperasi sekolah.

Mahasiswi UNIKU (Universitas Kuningan) Jurusan PGSD semester 5 ini juga aktif di organisasi paduan suara kampusnya. Ketekunan dan kegigigannya membawanya menggaet sejumlah prestasi terbaik di sekolah. Devi pun tampil menjadi vokalis andalan Grup Hadroh TPA YMI Cabang Kuningan (Jawa Barat).


Penghasilannya dari jualan memang tak seberapa, tapi usahanya di tengah pandemi ini yang pantang menyerah dan tidak gengsi patut diacungi jempol. "Kalau mau sukses tak boleh gengsi, semua harus dilakoni, yang penting halal," ujarnya.

Devi berharap warung seblak yang dirintis bersama teman-temannya ini bisa berkembang lebih besar lagi jika ada tambahan modal untuk menyewa tempat jualan di pinggir jalan raya serta untuk membeli berbagai alat masak yang memadai. Devi ingin mandiri dan memberi bukti, bahwa keberhasilan butuh proses yang tak mudah, kadang harus berliku. Masa pandemi ini menuntut kita agar terus berkarya, jangan menyerah, dan jadilah inspirator.

Bersama Gen Muda YMI, Mencetak Pemimpin dari Desa.

0 Response to "Tak Menyerah oleh Pandemi dan Resesi, Devi Buka Usaha Warung Seblak untuk Biaya Kuliah"

Post a comment