Pandemi dan Hijrah Diri (Cuplikan Tausiyah Ketua Umum YMI pada acara Ngobrol Santuy Keluarga Besar YMI)


Penularan virus Covid-19 masih terus terjadi ditengah kita. Wabah pandemi belum bisa diprediksi kapan akan berakhir. Sudah 5 bulan kita hidup ditengah pandemi, dengan mobilitas yang sangat terbatas. 

Setidaknya pandemi ini telah melewati 4 momentum besar umat Islam. Ramadhan, Lebaran, Qurban, dan sekarang ini, momentum Muharram, tahun baru Islam. Momentum sejarah hijrahnya Rasulullah SAW bersama para sahabat.

Pandemi dan Hijrah adalah 2 momen yang saling berbeda. Pandemi membuat kita harus banyak berdiam diri di rumah. Sedangkan hijrah mengajarkan kita untuk terus bergerak. Saat Rasulullah SAW hijrah, beliau menggunakan seluruh potensinya untuk bergerak. Pindah dari Mekkah ke Madinah.

Akan tetapi Pandemi dan Hijrah memiliki banyak kesamaan. Pertama, pandemi dan hijrah membuat situasi tertekan. Kita yang berada pada saat pandemi ini, dalam keadaan tertekan karena kekhawatiran akan penularan virus Covid-19. Sedangkan situasi hijrah, juga dalam ketakutan akibat ancaman kejahatan kaum kafir Quraisy yang menyerang Rasulullah SAW dan para sahabat.

Kesamaan kedua, pandemi dan hijrah ini mengajarkan kepada kita perubahan, untuk menghadirkan kehidupan baru. Saat pandemi, kita hidup dengan sistem belajar jarak jauh. Kita menjalani hidup dengan bekerja dari rumah, menggunakan teknologi virtual meeting. Ada perubahan pola hidup dalam mendengarkan pengajian, membeli barang, bertemu orang dan lain sebagainya, yang biasanya dengan tatap muka berubah menjadi sistem online.

Demikian pun dengan hijrah. Ada tantangan kehidupan baru bagi kaum muslimin saat tiba di Madinah. Menata kembali usaha dagangnya, merelakan diri bersusah payah ditempat tinggal barunya, bekerja bersama saudara baru, kaum anshor di Madinah.

Kehidupan baru ini, yang disebut New Normal, perlu memadukan antara ikhtiar dan tawakkal. Dua hal ini kewajiban kita. Wajib berikhtiar, dan wajib juga untuk bertawakkal. Tidak boleh kita tawakkal saja tanpa berikhtiar menjauhi wabah. 

Misalnya berkata begini, "ya sudah kita keluar rumah saja, hidup seperti biasa saja, toh kalau nanti kena virus corona, itu namanya takdir." Ini bukan cara pandang orang beriman. Kita diwajibkan berikhtiar menjauhi wabah dengan 3 M : Memakai masker, Menjaga jarak dan Mencuci tangan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW "Jauhilah wabah seperti engkau menjauh dari singa." (HR. Bukhari).

Ikhtiar yang kita lakukan itu berbarengan dengan tawakkal. Itulah mengapa, doa yang diajarkan Rasulullah SAW untuk berlindung dari wabah, diawali dengan kalimat pasrah dan tawakkal akan ketentuan Allah SWT. 

"Allahumma inna hadzal maradha jundun min junuudi-Ka, tushiibu bihii man tasyaa-u wa tashrifuhuu 'an man tasayaa-u."

Allahumma fashrifhu' annaa, wa 'an buyutina, wa' an ahliina, wa azwaajina wa dzararina, wa biladina wa biladil muslimin, wahfazhna mimma nakhafu wa nahdzar, fa Anta khairun haafizha wa Anta Arhamur rahimin."

"Ya Allah, sesungguhnya penyakit ini adalah tentara di antara tentara-Mu. Engkau palingkan penyakit ini kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau tempatkan kepada siapa yang Engkau kehendaki."

"Ya Allah, jauhkanlah (penyakit) ini dari kami, dari rumah-rumah kami, dari keluarga kami, dari pasangan-pasangan kami, dari anak cucu kami, dari negara kami, dan dari negeri-negeri kaum muslimin."

Keluarga besar YMI yang dimuliakan Allah SWT
Pandemi ini mengingatkan kita bahwa kematian itu dekat dan cepat. Sering tak terduga waktunya. Ini waktu yang tepat bagi kita untuk mengikis sifat sombong yang mungkin masih hinggap dalam diri.

Ada yang tertular Covid-19, saat pertama kali masuk Rumah Sakit masih biasa-biasa saja. Tapi setelah beberapa hari langsung drop, kemudian wafat.

Itulah mengapa, suatu waktu nanti kita akan kembali sama. Sama-sama berada pada alam kubur, sama-sama berada di padang mashyar yang luas dalam kondisi yang sama.

Bukan hanya manusianya yang sama, tapi tanah yang dipijaknya pun sama. Ini tertera dalam Al-Qur'an Surat At-Takwir ayat 1-4, dan Surat Al-Insyiqoq ayat 1-4.

"Wa idzal Jibalu Suyyirot" (dan apabila gunung dihancurkan). "Wa Idzal Ardhu Muddat, Wa Alqot Ma Fiiha Wa Takhollat" (dan apabila bumi diratakan, dan dimuntahkan apa yang ada didalamnya dan menjadi kosong).

Nantinya kita akan kembali sama. Saat umur 10 tahun mungkin banyak yang berbeda. Anak usia 10 tahun yang lahir dari orang tua yang kaya, akan menikmati makan yang enak, rumah bagus dan jalan-jalan keluar negeri.

Saat usia 20 tahun, mereka yang punya ayah dan ibu yang berharta, akan punya kesempatan sekolah di kampus unggulan, dibanding anak yang orang tuanya tak punya.

Di usia 30 tahun juga masih yang berbeda. Mereka yang pendidikannya tinggi, akan mendapatkan pekerjaan di tempat istimewa. Penghasilan besar, jabatan tinggi.

Tapi perhatikan mulai usia 40 tahun. Pada usia 40 tahun, yang berpendidikan tinggi dan yang kurang berpendidikan punya peluang yang sama dalam menghasilkan uang. Yang lebih menentukan kesuksesan adalah loyalitas, kedisiplinan, komunikasi dan mau bekerjasama. Bahkan seringkali orang yang kurang berpendidikan lebih banyak bisa menghasilkan uang dari yang berpendidikan tinggi, karena rezeki Allah yang atur.

Lalu pada usia 50 tahun, "cantik/ganteng" dan "jelek" adalah sama. Tidak peduli seberapa cantik dia, pada usia ini, keriput, bintik hitam, dan lain-lain tidak dapat disembunyikan lagi.

Pada usia 60 tahun, "jabatan tinggi" dan "jabatan rendah" sama. Setelah pensiun, seorang mantan pejabat tinggi tak bisa lagi menyuruh mantan tukang sapu sekalipun, meski dulunya tukang sapu itu adalah bawahannya.

Bila kita dipanjangkan umurnya, pada usia 70 tahun, "rumah besar" dan "rumah kecil" adalah sama. Karena kita sudah mengalami permasalahan sendi, sulit bergerak, hanya membutuhkan sedikit ruang untuk beraktifitas.

Bila Allah masih memanjangkan usia kita lagi, pada usia 80 tahun, "punya uang" dan "tidak ada uang" adalah sama. Bahkan makan saja sudah tidak nafsu. Kita tidak tahu lagi bagaimana menghabiskan uang, tidak tahu harus belanja di mana.

Dan pada usia 90 tahun, "tidur" dan "bangun tidur" adalah sama. Setelah kita bangun, kita masih tidak sadar harus berbuat apa. Boleh jadi, pada usia ini, "hidup" dan "mati" adalah sama, karena tak tahu lagi harus berbuat apa.

Oleh sebab itu, hiduplah yang wajar. Belajar dari Pandemi.

Wallahu a'lam

Adhi Azfar
Ketua Umum YMI


0 Response to "Pandemi dan Hijrah Diri (Cuplikan Tausiyah Ketua Umum YMI pada acara Ngobrol Santuy Keluarga Besar YMI)"

Post a comment