Amal Terbaik Disaat Sulit


(Cuplikan Khutbah Jumat Ketua Umum YMI)

Hari ini kita masih berada di masa wabah pandemi Covid-19. Masa yang berat. Banyak aktifitas ibadah yang sulit dilakukan.

Shalat berjamaah di Masjid memakai masker, dengan shaf yang berjarak +/- 1 meter. Kegiatan ta'lim berubah dari pertemuan fisik menjadi virtual meeting lewat teknologi internet.

Bahkan ada ibadah yang tidak bisa dikerjakan. Ibadah haji ditunda. Umroh belum dibuka.

Kesulitan hidup di masa wabah ini sangat terasa bagi pedagang kecil. Omsetnya menurun. Buruh pabrik dan pekerja kantor juga banyak yang kena PHK, dirumahkan, atau dipotong penghasilannya.

Namun disaat sulit seperti ini justru ada peluang besar bagi orang bertaqwa, untuk melakukan amalan terbaiknya. Ada kesempatan terbaik yang belum tentu akan berulang.

Disaat sulit, ada rukshoh (keringanan) dalam ibadah shalat. Mereka yang sakit, boleh shalat sambil duduk. Tak mampu duduk, boleh shalat dalam keadaan berbaring. 

Disaat sulit, juga ada rukshoh dalam ibadah puasa. Barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan, dia boleh berbuka puasa, lalu menggantinya pada hari yang lain, atau menggantinya dengan membayar fidyah.

Tapi ibadah sedekah, Allah SWT justru mengungkapkan "Alladzina Yunfiquna Fiissarro Waddhorro..." Orang yang bertaqwa adalah mereka yang bersedekah disaat lapang dan sulit. (QS. Ali Imron : 133-134).

Inilah saat terbaik untuk bersedekah...

Jamaah Sidang Jumat yang berbahagia

Itulah mengapa, saat paceklik melanda Jazirah Arab pada tahun ke-17 Hijriyah, Usman bin Affan justru mengoptimalkan ibadah sedekahnya.

Saat itu penduduk Madinah dalam keadaan sulit. Sejumlah ladang mengalami gagal panen. Cadangan makanan tak mencukupi.

Ditengah kesulitan itu, kafilah (rombongan) dagang Usman bin Affan tiba di gerbang kota Madinah. Ada 1000 ekor unta dibawa. Setiap unta dipenuhi bahan makanan. Gandum, terigu, minyak zaitun.

Para pedagang yang mengetahui kedatangan kafilah dagang Usman langsung menawar barang yang dibawa Usman. Pedagang-pedagang itu bermaksud membeli dagangan Usman lalu menjualnya kembali ke penduduk Madinah. "Pasti bisa dijual dengan harga tinggi, karena penduduk Madinah sedang butuh makanan." Demikian gumam para pedagang.

Maka pedagang itu pun menawar bahan makanan yang dibawa Usman. Ditawar dengan harga yang sangat tinggi. Ada yang 2 kali lipat, 3 kali lipat bahkan sampai 5 kali lipat.

Lalu Usman bertanya kepada pedagang-pedagang itu, "Apakah ada yang mampu membeli daganganku dengan harga 700 kali lipat?" Ternyata tak satu pun pedagang yang mampu membelinya.

Maka Usman pun mengatakan, "Seluruh unta dan bahan makanan yang dibawa ini saya sedekahkan di jalan Allah, agar nilainya berharga 700 kali lipat." Sebagaimana firman Allah SWT.

"Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya (bersedekah) di jalan Allah, adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan 7 bulir, pada tiap bulir 100 biji." (QS. Al-Baqarah : 261).

Barokallahu lii walakum

Adhi Azfar
Ketua Umum YMI




0 Response to "Amal Terbaik Disaat Sulit"

Post a comment