Resesi Ekonomi 2020 dan Paceklik Era Umar bin Khattab (Khutbah Jumat Ketua Umum YMI Abi Adhi Azfar, 14 Agustus 2020)

Ba'da Tahmid dan Shalawat
Hari ini sudah 5 bulan kita hidup ditengah wabah Covid-19, dihitung sejak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta diberlakukan 20 Maret 2020 lalu. 

Masa sulit 5 bulan ini telah meluluhlantakan perekonomian Nasional. Perusahaan berhenti berproduksi, sehingga karyawan terpaksa "dirumahkan." Pengangguran bertambah. Nasib mahasiswa yang lulus "Tahun Corona" ini menjadi terkatung-katung, kemana akan cari kerja disaat yang sedang bekerja saja di PHK.

Pemerintah pun mengumumkan bahwa tanda resesi ekonomi makin nampak nyata didepan mata. Ini menyusul angka pertumbuhan ekonomi yang minus 5,32 persen pada kuartal II 2020 (April, Mei, Juni). Artinya, daya beli masyarakat jauh menurun, investasi lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya. Dampaknya, angka kemiskinan meningkat akibat melonjaknya jumlah pengangguran.

Disebut resesi adalah saat angka pertumbuhan ekonomi minus 2 kuartal berturut-turut. Kuartal sebelumnya (April, Mei, Juni) sudah minus. Maka pertaruhannya adalah bulan Juli, Agustus dan September ini. 

Dampak dari resesi bisa bermacam-macam. Menipisnya ketersediaan pangan akibat industri tidak lagi memproduksi hingga merebaknya kriminalitas akibat meningkatnya jumlah penduduk miskin. Ini yang sangat mengkhawatirkan.

Saat pasokan makanan sedikit, maka rakyat akan kelaparan. Ini terjadi di Afrika Selatan pada Mei 2020 lalu. Kita lihat pemandangan di kota Centurion bahwa ribuan orang kelaparan mengantri sepanjang 3,5 kilometer untuk mendapatkan makanan. Pernah juga terjadi di Venezuela tahun 2017, anak-anak dan orang dewasa antri berjam-jam demi mendapat sepotong roti. Ini akibat krisis pangan. Resesi ekonomi yang tak terkendali.

Jamaah Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Resesi ekonomi seperti ini pernah terjadi di era Khalifah Umar bin Khattab. Setidaknya 2 kali Khalifah Umar menghadapi krisis. Pertama terjadi di Madinah tahun 17 Hijriyah. Kedua terjadi di Damaskus, Syam (sekarang Suriah) pada tahun 18 Hijriyah.

Di Madinah terjadi selama 9 bulan akibat paceklik dan musim kemarau berkepanjangan. Sedangkan di Damaskus selama 2 tahun akibat wabah penyakit Tha'un. Gelombang rakyat kelaparan terjadi, bahan pangan tak mencukupi.

Seluruh usaha pertanian dan peternakan hancur. Hewan ternak kurus kering. Unta dan domba tak mampu menghasilkan susu. Pasar sepi karena tak ada lagi yang diperjualbelikan. Uang pun tak berarti apa-apa. Tak ada yang dapat dibeli. Tahun ini disebut dengan "Tahun Abu" (saking keringnya, saat angin bertiup, abu terbang kemana-mana).

Lalu apa yang dilakukan Khalifah Umar mengatasi krisis?
Pertama, membangun solidaritas dengan negeri-negeri tetangga. Kepada Amr bin Ash di Palestina, kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Abu Ubaidah bin Jarrah di Syam, dan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash di Irak, Umar menulis surat agar pemimpin-pemimpin tersebut mengirim bahan pangan untuk membantu Madinah. Tak butuh waktu lama, bantuan pangan dan pakaian pun berdatangan.

Kedua, mengambil alih pasar. Dalam bahasa teori ekonomi, mekanisme pasar ditarik kembali sehingga peran sepenuhnya ada pada Negara. Tidak diserahkan kepada pelaku usaha dan pengusaha yang seringkali mengambil keuntungan besar dengan memanfaatkan kondisi sulit, karena mereka punya modal besar.

Ini dibuktikan Khalifah Umar dengan langsung mengelola bahan makanan pokok yang masih tersedia berupa makanan dan hewan-hewan ternak. Bahkan beliau sendiri yang memanggulnya untuk di distribusikan kepada rakyat yang kelaparan. Negara mengambil alih fungsi pasar.

Ketiga, Penghematan besar-besaran. Ini dilakukan Khalifah Umar dengan kebijakannya melarang pemilik unta untuk memberi makan untanya dengan gandum. Supaya gandum bisa dijadikan bahan makanan pokok manusia, bahkan jika perlu unta pun harus disembelih guna dijadikan makanan. Menyelamatkan jiwa manusia lebih utama.

Khalifah Umar juga menghemat pengeluaran kekhalifahan, hingga beliau hanya makan cuka dan minyak sehingga kulitnya berubah menjadi hitam. Lalu Umar r.a berkata, "Akulah sejelek-jelek kepala negara apabila aku kenyang sementara rakyatku kelaparan."

Keempat, mengoptimalkan tabungan. Khalifah Umar mengeluarkan segala stok pangan yang ada di gudang makanan dan menggunakan dana di baitul maal hingga habis. "Cadangan Devisa Negara" dioptimalkan oleh khalifah Umar untuk membantu rakyat yang kelaparan.

Pengelolaan keuangan Negara yang dilakukan Khalifah Umar perlu dicontoh di Indonesia. Stok pangan Kekhalifahan Umar bisa bertahan hingga 2 tahun paceklik pangan. Sementara di Indonesia, Kementerian Pertahanan menyebutkan cadangan beras hanya kuat bertahan selama 69 hari. Bandingkan dengan India yang cadangan berasnya bisa mensuplai selama setahun. Demikian juga cadangan energi, Data Pertamina menunjukan cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia hanya mampu bertahan selama 22 hari bila terjadi krisis.

Semoga Allah SWT menyelamatkan kita dari wabah dan krisis ini.

Barokallahuli Walakum
Adhi Azfar, ST, ME

0 Response to "Resesi Ekonomi 2020 dan Paceklik Era Umar bin Khattab (Khutbah Jumat Ketua Umum YMI Abi Adhi Azfar, 14 Agustus 2020)"

Post a comment