Virus Corona dan Wabah Thufan Era Fir'aun (Kajian Bulanan Gen Muda YMI Maret 2020)

Wabah penyakit yang disebabkan virus Corona atau COVID 19, sudah masuk ke Indonesia, dan menjadi perhatian serius pemerintah dan masyarakat di tanah air. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sudah menyatakan wabah ini sebagai Pandemik, yaitu penyakit yang menyebar secara global, tidak hanya 1 - 2 daerah atau 2 - 3 negara saja. 

Disebut Pandemik karena hampir seluruh dunia sudah terdampak virus ini. Beda dengan Endemik yang hanya 1 atau 2 daerah saja. Misalnya ada kasus Endemik demam berdarah di Depok, atau Endemik meningitis yang menjangkiti wilayah Afrika.

Kisah tentang wabah penyakit  seperti ini diungkapkan Al-Qur'an dalam surat Al-A'raf ayat 133. "Fa arsalna 'alaihimut Thufan Wal Jarod, Wal Qummal..." Allah kirim wabah Thufan, belalang dan kutu untuk Fir'aun dan pengikutnya. 

Penyakit Thufan ini meluluhlantakan perekonomian rakyat Era Fir'aun. Sawah ladangnya rusak, pohon-pohonnya tidak berbuah, ternak mereka mati. Dalam Tafsir Ibnu Katsir, mereka meminta kepada Musa a.s untuk berdo'a agar musibah ini bisa segera selesai, dengan janji kalau musibah berakhir maka mereka akan mengikuti Tuhannya Musa. 

Nabiyullah Musa a.s pun berdoa, lalu Allah mengabulkan. Thufan, kutu dan binatang yang mengganggu akhirnya lenyap. Namun kaum Fir'aun ini melanggar janjinya, bahkan mereka mengolok-olok Musa dengan menyebut ini kesialan yang berasal dari Musa.

Musibah Thufan ini (kalau kita cermati ayat-ayat sebelumnya dalam Surat Al-A'raf tersebut), didahului dengan musibah kekeringan. Surat Al-A'raf ayat 130 menceritakan ada kemarau panjang melanda yang juga meluluhlantakan sumber-sumber makanan penduduk negeri, Fir'aun dan kaumnya.

Ini persis dengan rentetan peristiwa di Negeri kita. Sebelum ramai masyarakat terjangkiti musibah Corona (di analogikan sebagai Thufan Era Fir'aun tersebut), Indonesia juga dilanda kemarau panjang sekitar 4 - 5 bulan sebelum merebaknya virus Corona ini.

Lalu perhatikan ayat setelahnya (masih dalam Surat Al-A'raf). Pada ayat 136 Allah menyebutkan bahwa ketika mereka tetap tidak mau beriman, maka Allah tenggelamkan mereka di laut. Maka binasalah semua mereka. Na'udzubillah min dzalik. Semoga kita terlindung dari itu semua.

Dalam hadits, kata yang sama, yaitu Thufan juga disebutkan Rasulullah SAW. Tatkala wabah penyakit Thufan melanda kota Madinah.

Rasulullah juga menyebut Thufan dalam hadits "Jika kamu mendengar wabah (Thufan) di suatu wilayah, maka jangan kalian memasukinya. Tapi jika wabah itu ada ditempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu." (HR. Bukhari).

Melakukan karantina, mengisolasi diri, adalah bagian dari cara membentengi diri dari wabah penyakit. Ini sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW, Insya Allah.

Saat Umar bin Khattab dalam perjalanan ke Negeri Syam, ditengah perjalanan Umar r.a diberitahu bahwa ada wabah penyakit di Syam. Lalu Umar memutuskan tidak melanjutkan perjalanan, beliau pun berbalik arah.

Keputusan ini sempat disangsikan oleh Abu Ubaidah bin Jarrah, bahwa kalau sudah takdirnya, yang terjadi pasti akan terjadi, yang tidak ditakdirkan terjadi maka tidak akan terjadi, jangan lari dari takdir.

Lalu Umar pun merespon dengan kalimat yang sangat populer saat ini, "Aku bukan lari dari takdir, tapi aku bergerak dari satu takdir Allah kepada takdir Allah yang lain."#

(Kajian bulanan Gen Muda YMI diselenggarakan pada Ahad, 15 Maret 2020 di Ciputat, Tangerang Selatan, diisi langsung oleh Ketua Umum YMI Abi Adhi Azfar).

0 Response to "Virus Corona dan Wabah Thufan Era Fir'aun (Kajian Bulanan Gen Muda YMI Maret 2020)"

Post a Comment