Mama dan Rafa, Sepenggal Cerita dari Orang Biasa


"Mama.... Mama, Abang ranking satu, mana janji Mama mau beliin es krim," rengek Rafa putra sulungku. 

Sejak pulang sekolah ia selalu saja menagih janjiku. Mana kutahu bila si sulung yang baru kelas 2 SD ini akan meraih ranking satu, pikirku saat berjanji.

"Paling banter dia mah hanya akan masuk sepuluh besar saja seperti biasa," gumamku kala itu.

"Sabar ya, Nak, tunggu Mama gajian dulu bulan depan" janjiku. Padahal aku pun tahu tanggal satu nanti upah jadi buruh cuci separuhnya akan habis menyicil hutang pengobatan ketika almarhum suamiku sakit dulu. 

Rafa cemberut. Aku tahu dia sangat kecewa.

Anak ini sebenarnya tak banyak minta. Es krim yang dia pinta itu satu-satunya selama ini. Itu pun karena aku janjikan kalau dia rangking satu.

Sebenarnya harganya hanya Rp.5.000. Tapi bagiku sangat mahal.

Aku mulai berandai-andai... Ah seandainya saja Rafa ranking dua atau tak usahlah ranking sekalian, ia pasti tak kecewa seperti ini. 

Keterpurukan hidupku bermula saat suamiku yang tiap hari bekerja sebagai buruh bangunan kecelakaan dan lumpuh. Sepekan sekali harus bolak balik kontrol ke rumah sakit, walau pakai BPJS tapi tetap repot, nggak semua dicover. Tetap membutuhkan biaya hingga hutang pun menumpuk. 

Ketika suamiku akhirnya pergi selamanya, hutang-piutang pun berdatangan meminta haknya untuk dilunasi. 

Aku pasrah. Memohon kepada si pemberi hutang agar memberi kelonggaran dengan mencicil. 

Bukan tak mau bekerja lebih giat lagi, namun selain Rafa, aku memiliki Dina putri bungsuku yang masih berusia 11 bulan. Tak semua orang mau menerima pekerja rumah tangga yang membawa balita. 

Sejak itu aku melakukan kerja apapun, mulai dari buruh cuci, hingga upahan membuat kue. Kebetulan kata orang-orang bilang bolu pisang buatanku enak. 

(Mbak, bisa buatin bolu pisang?) Ting.... Tetiba sebuah pesan masuk. 

Alhamdulillah. Aku bersorak. Tak sia-sia kemarin mengisi pulsa dan mengaktifkan WA ku. Ternyata ada pesanan masuk. 

(Bisa Mbak, mau berapa loyang?) Jawabku.

(2 loyang, ambilnya selepas Zuhur bisa?) 

(Bisa Mbak.) Aku menyanggupi.

(Tapi bolu pisangnya jangan pakai gula ya, biar manisnya dari pisangnya saja. Anakku alergi gula).

(Baik Mbak). Aku segera buat sesuai pesanan. 

(Berapa harganya?)

(50.000 Mbak per loyang) Aku kasih harga seperti biasa.

(45.000 saja ya, kan gak pakai gula.)

Aku nelan ludah. Ya Tuhan, padahal dalam tiap loyangnya aku hanya mengambil untung 10.000. 

Kalau dipotong 5.000. Jadi tinggal 5.000 untungnya. Ada 2 loyang jadi hanya 10.000. Tak apalah, yang penting untuk es krimnya Rafa. Sisanya untuk beli beras. Pikirku.

(Ya sudah karena Mbak ambil dua, aku kasih).

(Oke, tapi aku gak bisa ambil ke rumah ya, Mbak. Aku mau pergi liburan, jadi jam 1 aku tunggu di depan SMP yang ada di simpang depan)

(Oke siap). Aku langsung gerak cepat menyiapkan semua bahan dan mulai bekerja. Baru jam sembilan berarti masih banyak waktu luang. 

Kebetulan ada pisang Ambon yang belum terpakai jadi nggak perlu beli ke pasar. 

Alhamdulillah aku bisa mendapat untung 10.000 dari penjualan dua loyang bolu pisang. 

Cukup untuk mengobati kekecewaan Rafa.

Selepas sholat Zuhur, jam 12.30 aku segera berangkat menuju tempat yang dijanjikan. Si sulung mengekor langkahku dengan riang karena terbayang es krim yang bakal didapat. Si bungsu sedang tidur siang jadi kugendong saja. 

Tempat janjian kami cukup jauh sekitar satu kilometer dari rumah. Walau tengah hari dan terik matahari tengah garang menyerang, aku tetap semangat, demi 10.000 untuk melunasi janjiku.

Jam satu kurang lima menit kami telah tiba di tempat janjian. Mungkin sebentar lagi yang memesan akan datang. 

Sepuluh menit, dua puluh menit hingga tiga puluh menit berlalu namun tak kunjung terlihat tanda bila si pemesan akan datang.

Beberapa pesan telah kukirim sejak tadi namun hanya terkirim dan belum dibaca.

Aku menelpon berkali-kali pun tak kunjung diangkat. Sudah hampir satu jam menanti. 

Rafa telah lelah dan merengek sementara Dina telah bangun dan ikut meraung karena kepanasan. 

Ting! Sebuah pesan masuk. Hatiku bersorak, dari si pemesan kue. 

(Ya Allah Mbak, maaf ya aku lupa. Ini suami berubah pikiran, awalnya dia bilang berangkat selepas Zuhur eh tahunya jam sepuluh udah mau buru-buru. Jadi nggak sempat kasih kabar. Mbak, jual bolunya sama orang lain saja ya, aku udah otw ke kampung) 

Aku langsung terduduk lemas. Ya Allah, ya Allah, ya Allah. Apalagi ini? Aku tak meminta banyak ya Allah, hanya es krim saja. 

Peluhku yang sudah sejak tadi mengucur, kini bercampur dengan air mata. 

Siapa yang ingin membeli bolu pisang tanpa gula dengan rasa manis yang alakadarnya? 

Ya Allah, berkali aku menyeka air mata yang terus membasahi wajah. 

Rafa berhenti merengek, ia langsung diam melihat air mataku. Lama ia menatapku iba. Kedua netranya mulai berkaca. Tak tega hati ini melihatnya. Ia hanya ingin es krim seharga 5.000 Allah.

"Rafa nggak akan minta es krim lagi Ma, tapi Mama jangan nangis." Rafa kecilku berkata dengan suara yang bergetar. Sepertinya ia pun menahan tangis. 

"Kita pulang, Nak," ucapku. Rafa mengangguk, si bungsu pun tangisnya mulai mereda. Sepertinya ia mengerti akan kegundahan hati ini. 

Ya Allah, beginilah rasanya. Sakit ya Allah, sakit....

Sepele bagi mereka namun begitu berat bagiku. Bahan-bahan bolu itu adalah modal terakhir dan kini seolah sia-sia. 

Yaa Allah, berkali aku menyebut nama-Nya. Berat, sungguh berat, belum lama suamiku pergi dan kini rasanya aku lemah. 

Tak banyak ya Allah hanya ingin es krim saja, itu saja, untuk menyenangkan buah hatiku dan kini bukan untung yang kudapat malah kerugian yang telah nyata di depan mata. 

Aku baru saja memasuki halaman rumah kontrakan ketika Bu Rina tetanggaku kulihat telah menunggu. 

"Eh, ibunya Rafa, saya cariin tadi, untung cepat pulang." 

"Ada apa Bu?" tanyaku. Semoga saja wanita baik ini akan memberikanku perkerjaan. Apa saja boleh, bahkan yang terkasar sekalipun akan kuterima. Tapi nggak mungkin, di rumah besarnya sudah ada dua pembantu yang siap sedia. Aku kembali membuang anganku. 

"Gini, ibu jangan tersinggung ya." Bu Rina menatapku. 

Aku mengangguk, ingin kukatakan bila rasa tersinggung itu sudah lama lenyap dalam kamus hidupku. 

"Papanya anak-anak kan baru pulang jemput kakek neneknya dari bandara. Ya dasar laki-laki tahunya kan cuma nyenengin anak tapi nggak tahu yang baik." 

Aku mengangguk walau belum paham kemana arah pembicaraan. 

"Masa dia beliin anak-anak es krim sampai lima buah. Padahal anakku kan masih batuk pilek parah. Jadi, daripada buat rusuh, mau ya Bu nerima es krim ini, untuk Rafa dan adiknya." Bu Rina menyerahkan plastik putih berisi es krim padaku. 

Aku terdiam tak sanggup berkata-kata.

"Asikkk." Rafa bersorak, aku masih bergeming. 

"Lho, yang ibu bawa itu apa?" tanya Bu Rina melirik kantong hitam berisi dua kotak bolu pisangku. 

"Bolu pisang Bu, tapi gak manis, tadi yang mesan batalin. " 

"Wah kebetulan, neneknya di rumah itu diabetes jadi nggak bisa makan manis. Saya beli ya untuk cemilan." 

"Benar Bu?" Aku bertanya tak percaya. 

"Iya, berapa harganya?" 

"Berapa saja, Bu. Terserah, asal jadi uang." 

"Ya sudah." Bu Rina menyerahkan dua lembar uang Rp.100.000 ke dalam genggamanku. 

"Ya Allah Bu ini kebanyakan," ucapku. 

"Sudah, nggak apa. Ambil saja, kalau mesan yang kayak gini emang mahal kok Bu." Bu Rina langsung mengambil kantong berisi bolu pisang dan bergegas pergi. 

Aku masih diam dengan air mata yang mulai menetes lagi. Baru saja mengeluh akan pahitnya hidup dan kini semua telah terbayar lunas. 

Dirumah, Bu Rina meletakkan bolu pisang yang baru ia beli di atas meja makan. 

Ia duduk dan memandang dua kotak bolu pisang itu dengan tatapan berkaca. 

Sungguh zholim sebagai tetangga, bahkan ada seorang janda yang kesusahan pun ia tak tahu. Sementara baru saja ia membeli tas branded seharga jutaan dan tak jauh dari rumahnya ada seorang anak yatim merengek pada ibunya hanya demi sebuah es krim. 

Untung saja Zaki putranya bercerita, bila tidak pastilah kezholiman ini akan terus berlangsung.

"Bunda, tadi yang juara 1 Rafa, tetangga kita yang di ujung itu," lapor putra sulungnya. 

"Bagus dong, les dimana dia?" 

"Nggak les kok, Bun. Orang dia miskin kok." 

"Hey, gak boleh menghina orang lain." Bu Rina melotot pada putranya. 

"Nggak menghina kok. Kenyataan emang dia miskin. Kasihan deh, masa kan ibunya janji mau beliin dia es krim kalau ranking 1 eh pas dia ranking malah ibunya bilang tunggu ada uang. Kasihan banget Rafa ya, Mana kalau di sekolah dia suka mandang jajanan temannya kayak ngeiler gitu tapi pas dikasih dia nolak. Malu mungkin ya," Zaki bercerita panjang lebar. 

Bu Rina terdiam. 

Ya Allah mengapa ia tak tahu? Selama ini, ia aktif ikut kegiatan sosial, mengunjungi panti asuhan ini dan itu. Namun ia abai akan keadaan di sekitar. 

"Bunda, bolunya gak ada rasa, kurang enak," ucap Zaki membuyarkan lamunanku.

"Sengaja, makannya bukan gitu. Tapi kamu oles mentega dan taburi meses atau kamu oles selai buah." 

"Ohhh, gitu ya. Tumben Bunda pesan bolu tawar." 

"Lagi pengen aja." 

Bu Rina matanya mulai berkaca-kaca... Menghela napas panjang. Tak akan terulang lagi, jangan sampai ada tangis anak yatim yang kelaparan di sekitarnya. 

Anak yatim itu bukan tanggung jawab ibunya saja tapi keluarga dan orang sekitar. 

Sahabat....
Kadang terdengar sepele bagi kita namun sangat berarti bagi mereka. 

Ada kala sisa nasi kemarin sore yang tak tersentuh di atas meja makan kita adalah mimpi dari anak-anak yang telah berhari-hari terpaksa menahan laparnya. 

Jangan heran bila ada orang yang begitu terharu ketika gaun pesta yang menurut kita sudah ketinggalan jaman itu kita berikan pada mereka. 

Uang 50.000 akan sangat mudah lenyap ketika dibawa ke mini market bertukar dengan aneka jajanan yang habis dalam sekejap, padahal itu setara dengan hasil kerja keras seorang buruh dari pagi buta hingga tengah malam.

Bersedekah itu nggak perlu banyak, sedikit saja dari yang kita punya, yang penting berkelanjutan.

Memberi itu jangan menunggu kaya, justru karena banyak memberi, kita jadi kaya.

Beruntunglah bila disekitar kita begitu banyak ladang sedekah dimana kita dapat menukar rupiah menjadi pahala. Kaya itu bukan pada jumlah harta tapi bagaimana kita membelanjakannya. 

Suatu saat, akhirat itu akan nyata di hadapan kita. Pertanyaanya, sudahkah kita menyiapkan hunian di sana?

Dari Orang Biasa, yang sedang berupaya berbuat luar biasa.

Sumber (dengan berbagai revisi bahasa dan nama.tokoh) :
https://baladena.id/kisah-inspiratif-bolu-pisang-dan-es-krim/

0 Response to "Mama dan Rafa, Sepenggal Cerita dari Orang Biasa"

Post a comment