Angka Putus Sekolah Tinggi di Pandeglang, Dua Abang-Adik ini Dirikan Sekolah Gratis untuk Anak Desa Putus Sekolah

Untuk memberi manfaat besar, tak selalu harus dengan dana yang besar. Kesungguhan, keyakinan dan konsistensi yang dimiliki 2 abang-adik di Pandeglang (Banten) ini, telah menjadi modal untuk mendirikan sekolah gratis di Desa Kadupandak, Picung, Pandeglang.

Sekolah gratis ini dibangun untuk merespon tingginya angka putus sekolah di Pandeglang. Berdasarkan Data Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pandeglang, pada tahun 2016 ada 459 anak putus sekolah ditingkat SD dan SMP. Jumlah ini meningkat di tahun berikutnya, tahun 2017 menjadi 475 anak yang putus sekolah. 

Keseharian Kang Ridwan

Kang Imat dan Kang Ridwan, demikian 2 abang-adik ini disapa penduduk desa setempat. Kang Ridwan sehari-hari mengajar sebagai Guru Honorer di Kampung, sedangkan Kang Imat sehari-hari kerja serabutan, kadang jadi sales buku, bikin keripik, tukang service alat-alat elektronik sampai mengumpulkan tembaga untuk menafkahi keluarga. Berapa penghasilannya? Sekitar 10-15 ribu rupiah seminggu.

Masing-masing sudah berkeluarga dan memiliki anak, namun karena berbagai keterbatasan, mereka masih tinggal di rumah orang tua di Kampung Cibagolo, Picung, Pandeglang.

Keduanya pengurus Yayasan Munashoroh Indonesia (YMI) yang berpusat di Jakarta. Kang Imat dipercaya sebagai Ketua YMI Cabang Pandeglang, sedangkan sang Abang Ridwan mengurus pembinaan anak-anak yatim dhuafa binaan YMI di Kampung.

Suasana Kelas
MTs Munashoroh

Keterbatasan tak membuat mereka berhenti berbuat. Pertengahan tahun 2016, Abang-adik ini mendirikan sekolah gratis untuk anak desa, dinamakan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Munashoroh, berlokasi di Kampung Muliajati, Picung, Pandeglang. Munashoroh artinya pertolongan.

Tahun pertama jumlah muridnya hanya 14 anak, namun kini menginjak tahun ke-4, ada 56 anak desa yang menikmati sekolah gratis ini. MTs gratis juga sudah meluluskan 14 anak murid angkatan pertama. Lulus SMP dan lanjut ke SMA.

Seragam Sekolah
Gratis

Tak hanya gratis SPP bulanan dan gratis biaya pendaftaran, murid-murid di MTs Munashoroh juga mendapat seragam batik, baju olahraga, buku, tas dan perlengkapan sekolah. Bahkan bagi mereka yang jauh lokasi tinggalnya, MTs Munashoroh menyediakan antar jemput dengan motor. Guru dan Staf MTs yang setiap hari menjemput dan mengantar kembali pulang dari sekolah ke rumah. Ini diperlukan karena di kampung tidak ada kendaraan umum dan jarak dari rumah ke sekolah sangat jauh.

Antar Jemput
Murid MTs

Ternyata tak cukup disitu, MTs Munashoroh juga menyediakan uang santunan untuk anak-anak murid, lewat program Orang Tua Asuh bagi Anak Yatim Desa, sebuah program Unggulan YMI yang sudah berjalan sejak tahun 2010. 

Upaya Abang-adik ini mengurangi angka putus sekolah di desa, mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, baik Kepala Desa hingga Camat setempat. Awal Maret 2020 ini, kedua Abang-adik ini akan tampil di Rakernas YMI dalam Testimony dan Succes Story, Kisah Sukses Mendirikan Sekolah Gratis di Desa. 

Saksikan Succes Story Kang Imat dan Kang Ridwan, hari Sabtu, 7 Maret 2020, pukul 16.30, Live Streaming di Facebook YMI (Munashoroh Indonesia). #

Bersama YMI
Menyekolahkan Anak Yatim di Pelosok Desa
Ayo Jadi Orang Tua Asuh
CP. 081288150526 (WA)

0 Response to "Angka Putus Sekolah Tinggi di Pandeglang, Dua Abang-Adik ini Dirikan Sekolah Gratis untuk Anak Desa Putus Sekolah"

Post a comment