Hanya Kematian yang Menghalanginya Shalat Berjamaah di Masjid, Belajar dari Kedisiplinan Almarhum Abah Kukuh

Masih pagi hari buta, pukul 04.00 WIB. Beliau sudah tiba di Masjid disaat tak satu pun orang terjaga. Sangat sepi, sehingga suara sekecil apapun pasti terdengar.

"Kreeek..." Terdengar suara pintu Masjid dibuka. Suara ini setiap hari terdengar oleh anak-anak Panti Asuhan Siti Khadijah Al-Kubro. "Itu pasti suara Abah membuka pintu Masjid lalu menyalakan lampu Masjid," gumam mereka.

Panti ini berada persis bersebelahan dengan Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq. Masjid yang dipimpin Abah Kukuh Yuanto selama 14 tahun. Berlokasi di Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Setelah menyalakan lampu, Abah membangunkan 2 Marbot Masjid, lalu shalat Qiyamullail dan Tilawah Al-Qur'an. Ini dilakukan bukan 1-2 hari atau 3-4 bulan. Tapi bertahun-tahun. "Beliau bangun pukul 3.45 WIB setiap harinya," ujar salah satu Imam Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Semasa mudanya, beliau bekerja di sebuah BUMN terbesar di tanah air. Hampir selalu menjadi yang pertama tiba di kantor. Selepas subuh berangkat ke kantor, tiba di kantor jam 5.45 pagi. Bahkan lebih dulu sampai di kantor dibanding Office Boy. Sehingga beliau diberikan kunci kantor untuk membuka kantor setiap hari.

Hari Jumat, 21 Juni 2019. Tak ada tanda-tanda beliau akan berpulang ke Rahmatullah. Setelah Buka Puasa Syawal, beliau Shalat Maghrib berjamaah di Masjid. Selepas Isya berjamaah, mengadakan Rapat Masjid bersama 3 Pengurus Inti Masjid membahas kebersihan Masjid dan Program kedepan.

Tepat pukul 20.15 pulang ke rumah, lalu makan. Beberapa kali muntah dan keringat dingin. Pukul 21.30 dinyatakan wafat.

Jarak antara kebiasaan beliau di Masjid dengan ajalnya hanya berjarak 1 jam 15 menit. Sangat dekat sekali. 

Itulah mengapa kata Nabi "Seseorang akan diwafatkan sebagaimana kebiasaannya."

يُبعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

"Setiap orang akan dibangkitkan sesuai kematiannya." (HR. Muslim).

Imam Al-Hafizh Zainuddin Abdurrauf Al-Munaawy berkata, "Maksudnya ia mati karena sesuai dengan kebiasaannya dan dibangkitkan sesuai itu." (Tafsir Bi Syarhi Al-Jami' Ash-Shaghir : 2/859).

Innalillahi Wa Inna Ilaihi Roji'un. Selamat Jalan Abah Kukuh Yuanto. Beliau adalah pembuka jalan bagi anak-anak asuh YMI untuk kuliah di Jakarta. Anak-anak desa yang seharusnya mendapatkan kesempatan sama dengan anak kota untuk mengenyam pendidikan, hanya karena kebijakan pemerintah yang kurang berpihak menyebabkan mereka terhenti dari sekolah. Abah Kukuh menyediakan tempat penginapan di Masjid (termasuk makan sehari-hari) bagi anak-anak desa YMI ini untuk kuliah.

Semoga Allah SWT merahmati dan memuliakan beliau. Al-Fatihah.


Bersama YMI
Menyekolahkan Anak Yatim di Pelosok Desa
Ayo Jadi Orang Tua Asuh
CP. 0812.881.50.526 (WA)

0 Response to "Hanya Kematian yang Menghalanginya Shalat Berjamaah di Masjid, Belajar dari Kedisiplinan Almarhum Abah Kukuh"

Post a Comment