Arahan Ketua Umum YMI pada Pembukaan RAKERNAS 2019 di Lampung

Assalamu'alaikum wr.wb
Ba'da Tahmid dan Shalawat

Sahabat-sahabat YMI yang saya cintai, ini adalah Rakernas ke-9 sejak YMI membuka cabang-cabang di berbagai daerah di tanah air. Coba kita hitung lagi, Rakernas pertama di Puncak (Jawa Barat) tahun 2011. Saat itu baru ada sekitar 5 cabang YMI. Rakernas kedua di Kuningan (Jawa Barat) tahun 2012, lalu di Pandeglang, kemudian Jakarta, lalu Sukabumi. Tahun 2016 kita Rakernas disini (Lampung), tahun 2017 di Bekasi, dan terakhir di Cirebon.

Alhamdulillah hingga saat ini YMI terus eksis ditengah masyarakat, bahkan sekarang diberi amanah lebih luas lagi mengelola anak-anak desa dari Sumatera, Jawa hingga Lombok. Karena itu, setiap tahun kita selalu mengevaluasi ikhtiar kita di Rakernas.

Mengapa yang dievaluasi ikhtiarnya, bukan hasilnya? Karena ikhtiar itu kewajiban kita, sedangkan hasil adalah hak Allah. Kita tak mungkin mengevaluasi hak Allah, tapi kita wajib mengoptimalkan tugas-tugas kita.

"Innallaha Katabal Ihsana 'Ala Kulli Syai'in" (Sesungguhnya Allah mewajibkan Ihsan atas setiap perbuatan). HR. Muslim.no.1955.

Karena itu, yang pertama perlu ada dalam pikiran kita adalah Bijak dalam Mensikapi hasil. Allah telah menjadikan kisah perjuangan para Nabi sebagai pelajaran. 

Berapa banyak hasil yang diperoleh Nabi Nuh a.s ? Lihat berapa jumlah pengikutnya. 

Bila kesuksesan hanya diukur dari hasil bertambahnya jumlah pengikut, maka Nabi Nuh a.s tidak sukses dan hanya Nabi Sulaiman a.s yang sukses, karena Nuh a.s pengikutnya tak lebih dari 16 orang, sedangkan kerajaan Sulaiman a.s begitu besar dan luas. Pengikutnya tak hanya manusia. Hewan dan bangsa Jin pun tunduk padanya.

Allah juga kasih contoh berikutnya di zaman Fir'aun. Bila kesuksesan diukur dari luasnya kekuasaan, maka manusia tersukses adalah Fir'aun. Bila keberhasilan diukur dari banyaknya harta, maka Qorun adalah manusia paling berhasil di muka bumi. Bila kehebatan hanya diukur dari kecerdasan, maka tak ada yang lebih hebat daripada Haman.

Maka ukurlah kesuksesan itu dari ikhtiar dan kesungguhannya. Awali dengan taqwa, lalu rencanakan dengan matang, dan diakhiri dengan taqwa lagi, sebagaimana firman Allah, "Hai Orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri mempersiapkan untuk hari esok, dan bertaqwalah kepada Allah..." (QS. Al-Hasyr : 18).

Dalam ayat itu Allah menyuruh Kita bertaqwa, lalu ikhtiar, lalu bertaqwa lagi. Awal dan akhirnya adalah taqwa, tapi ada kewajiban ikhtiar ditengahnya. 

Meski hasil itu adalah hak Allah, bukan berarti kita hanya menunggu bertopang dagu. Allah juga perintahkan kita untuk bekerja, "Dan bekerjalah kamu, maka Allah, Rasul dan Orang beriman akan melihat pekerjaanmu itu..." (QS. At-Taubah : 105).

Di ayat yang lain Allah menggambarkan "Barangsiapa bersungguh-sungguh maka akan ditunjukan jalannya." (QS. Al-Ankabut : 69).

Yang kedua, kita perlu menghadirkan jiwa yang tegar dalam menghadapi mihnah (ujian). Organisasi YMI sudah memasuki usia belasan tahun, ini sudah memasuki pertengahan jalan. Seperti orang yang sedang mendaki gunung, di awal-awal masih kuat, segar, bahkan senang gembira. Tapi saat perlahan-lahan menapaki jalan mendaki, nafas sudah mulai tersengal-sengal. 

Itulah mengapa ada rasa jenuh dalam beraktifitas. Termasuk di YMI ini. Ujiannya bisa berupa fitnah. Ada cabang YMI di fitnah, jadi bahan gunjingan. Cobaan itu ada ditengah perjalanan.

Kenapa Allah kasih ujiannya ditengah perjalanan? Supaya terlihat mana orang-orang yang istiqomah, yang punya komitmen kuat dan benar-benar ikhlas berjuang.

Kisah perjuangan Thalut melawan Jalut bisa kita ambil hikmahnya. Ini diabadikan dalam Al-Quran Surat Al-Baqaroh ayat 246-252. Thalut memberangkatkan 80.000 pasukan dari kampung menuju medan perang. Ditengah jalan, pasukan itu menemui sungai, yang namanya sungai Syari'ah (terletak diperbatasan Yordania dan Palestina). Dalam keadaan letih dan haus itu, Allah justru melarang mereka minum. Ujian terjadi ditengah perjalanan.

"Sesungguhnya Allah menguji kamu dengan sebuah sungai, maka siapa yang meminumnya dia bukan golonganku, kecuali yang minum hanya dengan seceduk tangan..." (QS. Al-Baqarah : 249).

Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini menyebutkan bahwa hanya ada 313 orang yang melewati ujian sungai itu, dari total 80.000 orang yang berangkat. Ujian ada ditengah, dan sebagian besar justru tak lolos ujian itu.

Yang ketiga, kita perlu membangun pondasi yang kuat untuk mengambil keputusan. Bahasa populernya, Cermat. Mengapa? YMI Pusat telah memberikan kewenangan kepada pengurus cabang YMI untuk mengambil berbagai keputusan. Misalnya keputusan mengganti anak asuh yang tak mau mengaji, kebijakan pengalokasian anggaran (yang penting sesuai kaidah syariah Islam), atau keputusan lainnya.

Tidak semua program YMI bisa diterapkan di semua cabang. Perlu buat prioritas mana yang bisa dikerjakan terlebih dahulu. Kemampuan dan kesanggupan kita berbeda-beda.

Itulah mengapa Allah mewajibkan Haji dan Puasa, lalu dibarengi dengan kalimat "Inistatho'tum" yaitu sesuai kemampuan kita.

Saat seorang bernama Aus bin Shamit menzhihar istrinya Khaulah binti Sa'labah, lalu Khaulah mengadu kepada Rasulullah, maka turunlah surat Al-Mujadilah ayat 1-4. (Zhihar adalah kalimat yang menyebutkan istrinya sepertinya punggung ibunya).

Dalam ayat tersebut Allah menghukum si suami dengan memperhatikan kesanggupannya. Pertama adalah disuruh memerdekakan budak, ternyata Aus bin Shamit tak mampu, karena tak punya budak. Lalu diperintahkan berpuasa, ternyata Aus adalah kakek lemah yang tua renta. Karena tak mampu juga, Allah perintahkan untuk memberi makan fakir miskin, Aus pun tak sanggup memenuhinya. Akhirnya Rasulullah memberinya sekeranjang kurma agar Aus bisa memberi makan fakir miskin. Ternyata Aus adalah orang paling miskin di Negeri itu. Aus-lah yang akhirnya mendapatkan kurma dari Rasulullah, sekaligus ampunan dari Allah SWT.

Bila kita tak mampu melaksanakan semua program, maka kerjakanlah semampunya. Ini pesan yang tersirat dalam kaidah Ushul Fiqih "Maa Laa Yudroku Kulluh Laa Yutroku Kulluh" (Sesuatu yang tidak bisa kamu ambil semuanya, jangan kamu tinggalkan semuanya).

Ambillah program YMI yang sanggup antum kerjakan, bila antum tak mampu mengerjakan semuanya.

Sahabat-sahabat YMI...
Jadikan Rakernas ini sebagai ajang untuk menyatukan potensi yang terserak di cabang-cabang YMI. Ini sangat perlu karena kita berasal dari latar belakang yang berbeda. Ada Muhammadiyah, Dewan Dakwah, Nahdlatul Ulama, Nahdlatul Wathon, Persis, Aktifis PKS serta organisasi Islam lainnya. Agenda yang refresh seperti Duren Party, Outbound dan Kuliner bareng menjadi pilihan untuk mengikis sekat-sekat penghambat kesatuan umat itu. YMI telah menjembataninya.

Rakernas YMI juga berfungsi untuk menyegarkan kembali semangat untuk bekerja, supaya nggak loyo, karena manusia itu perlu diingatkan. Ketika shafar (perjalanan) yang cukup jauh, kita disuguhi pemandangan lautan Selat Sunda, dan suasana pedesaan yang dapat dinikmati sepanjang perjalanan.

Rakernas YMI juga berfungsi untuk meningkatkan kapasitas pengurus dan guru ngaji, agar meningkat kemampuan mengajarnya, memahami perkembangan zaman, menguasai kelas dan psikologi anak, apalagi yang kita tangani adalah anak-anak desa yang putus sekolah. Karena itu dalam Rakernas ada pelatihan untuk Guru serta pelatihan tentang kemajuan teknologi.

Selamat Menikmati Rakernas 2019, Bangun Kejayaan Umat Islam di Pelosok Desa Binaan Kita.

Wassalamu'alaikum wr.wb.

Adhi Azfar, ST, ME
Ketua Umum YMI

0 Response to "Arahan Ketua Umum YMI pada Pembukaan RAKERNAS 2019 di Lampung"

Post a Comment