Nasehat Perampok untuk Imam Ghazali

Kisah Inspiratif tentang Peredaran Hidayah Allah SWT
Oleh : Subhan Salim (Ketua YMI Cirebon)

Siapa yang tidak kenal dengan nama Imam Ghazali, ada begitu banyak pelajaran dan hikmah yang bisa di ambil dari beliau. Umat Islam di dunia ini rasa-rasanya mustahil bila tidak pernah mendengar nama beliau. 

Nama lengkap beliau Abu Hamid ibnu Muhammad ibnu Ahmad, atau Imam Ghazali, lahir di Khurasan, Iran, pada tahun 1058M/450H. Karya masterpiece-nya Ihya Ulumuddin, menjadi bacaan wajib bagi orang-orang yang ingin belajar tasawuf. Ia lahir dalam keluarga yang sangat taat beragama. Ayahnya adalah seorang pemintal Wool berasal dari desa Ghazalah. Nama desa inilah yang kelak menjadi nama sebutan bagi anaknya, Abu Hamid, yaitu Ghazali.

Di zaman Imam Ghazali, seorang yang ingin menuntut ilmu harus pergi merantau ke Naisabur untuk belajar dengan seorang guru. Imam Ghazali pun demikian pergi ke Naisabhur untuk menuntut ilmu. Dengan semangat yang luar biasa Imam Ghazali mencatat semua apa yang di sampaikan oleh gurunya dan ini dilakukan selama bertahun-tahun.

Setelah sekian lama belajar, Imam Ghazali pulang ke kampungnya bersama kafilah yang memiliki tujuan yang sama. Dalam perjalanan, rombongan kafilah dan Imam Ghazali tersebut dihadang segerombolan perampok. 

Dirampaslah semua barang-barang kafilah dan terakhir barang-barang Imam Ghazali. Perampok mengambil semua barang berharga yang di bawa oleh rombongan termasuk buku-buku Imam Ghazali dan kertas-kertas rangkuman hasil belajar beliau. Seketika perampok melarikan diri dengan membawa barang rampasan seketika itu juga Imam Ghazali mengejar kawanan perampok tersebut, pemimpin rampok menoleh ke belakang lalu berkata kepada Imam Ghazali "Pulanglah jika tidak akan aku bunuh!!"  

Imam Ghazali hanya meminta buku dan rangkuman miliknya "Aku mohon agar kau kembalikan buku catatanku?" ucap Imam Ghazali.

"Catatan apa yang kau maksud?" tanya si perampok.

"Sebuah buku di tas kecil. Aku telah melakukan perjalanan jauh untuk mendengarkan dan mencatat semua pelajaran dari guruku. Semua catatan ada di buku itu," jawab Imam Ghazali.

Perampok itu tertawa sambil berkata "Nah sekarang ilmu kamu itu ada padaku dan sekarang kamu tidak punya ilmu apapun. Kamu tidak punya ilmu lagi. Kasihan sekali kamu belajar capek-capek, tapi ilmu hanya ada di tulisan.

Meskipun begitu perampok tersebut mengembalikan tas yang berisi buku Imam Ghazali. Mendengar perkataan perampok tadi Imam Ghazali termotivasi untuk menghafal semua hasil catatan rangkumannya. 

Kata-kata perampok tadi dijadikan ilmu oleh Imam Ghazali untuk memacu semangat menghafal semua ilmu yang ia pelajari.

Inilah orang yang bijak bisa mengambil pelajaran dari siapapun meskipun dari perampok sekalipun. Hidayah Allah SWT bisa saja disalurkan lewat mulut orang fasiq. Salah satunya perampok tersebut.

Allah SWT  Maha Berkehendak, begitupun  dalam menyampaikan Hidayah melalui perantara siapapun dan kapanpun Hidayah itu sampai kepada seseorang yang Allah SWT kehendaki. #

Bersama YMI
Menyekolahkan Anak Yatim di Pelosok Desa
Ayo Jadi Orang Tua Asuh
CP. 0812.881.50.526 (WA)

0 Response to "Nasehat Perampok untuk Imam Ghazali"

Post a Comment