Kisah Sahabat Nabi SAW saat Melamar Wanita

Kisah Inspiratif
Oleh : Subhan Salim (Ketua YMI Cirebon)

Salman Alfarisi adalah sahabat Nabi SAW yang cukup familiar karena idenya yang brilian dalam melindungi kota Mekkah pada saat perang khandak. Salman yang menggagas ide membuat sebuah parit yang merupakan strategi yang belum pernah dipakai sebelumnya dalam perang manapun. 

Salman Alfarisi juga adalah seorang bangsawan Persia sebelum memeluk Islam beliau seorang manusia yang menyembah api, dia merasa tidak nyaman dengan agamanya kemudian pergi ke jazirah Arab dan bertemulah dengan Nabi SAW dan akhirnya memeluk Islam.

Sudah saatnya Salman dewasa dan sudah waktunya pula ia menikah. Ada seorang wanita Anshar yang Sholehah yang di kenalnya dan memikat hati Salman. Ia pun hendak meminangnya. Sebagai seorang yang asing di Madinah, Salman merasa harus ada seorang yang bisa menyampaikan maksudnya tersebut karena perbedaan adat istiadat, budaya dan unggah-ungguh di Madinah yang berbeda dari Persia dalam mengkhitbah seorang wanita.

Salman menyampaikan maksud isi hatinya dan menceritakannya kepada Abu Darda. Abu Darda adalah orang Madinah (Anshor) yang di persaudarakan dengan dirinya oleh Rasulullah SAW. Mendengar curahan hati Salman, Abu Darda gembira mendengarnya seraya berucap "Subhanallah Walhamdulillah." Mereka tersenyum bahagia dan  berpelukan.

Salman mempersiapkan mahar dan hal-hal yang diperlukan untuk pernikahannya. Setelah semua persiapan dirasakan sudah cukup, maka berangkatlah kedua sahabat itu ke rumah wanita sholehah pilihan Salman. 

Sampailah Salman dan Abu Darda di rumah wanita tersebut. Mereka bertemu dengan orang tua dari wanita tersebut. Abu Darda menyampaikan maksud dan tujuannya tersebut kepada orang tua wanita bahwa saudaranya Salman hendak mengkhitbah (melamar) putrinya. 

Salman adalah sahabat dekat Nabi SAW, saking dekatnya ia dianggap sebagai ahli bait Nabi SAW dan semua warga Madinah pun mengetahui hal itu. 

Orang tua wanita pun senang dengan kedatangan kedua sahabat Nabi SAW tersebut dan senang bermenantukan sahabat Nabi SAW yang utama, tetapi walau bagaimanapun harus meminta persetujuan putrinya. Sang putri di balik tirai memberi isyarat dengan jawaban ”Maafkan kami atas keterusterangan ini,” kata suara lembut itu. 

Lalu sang ibu pun bicara mewakili puterinya. ”Karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah SWT saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”

Terkejut Salman dan Abu Darda, tak disangka jawabannya begitu mengagetkan.

Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar dari pada pelamarnya, tetapi Salman dengan kesatria mengungkapkan, "Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”

Inilah kualitas keikhlasan, keimanan dan ketaqwaan sahabat Nabi SAW, Salman lebih mementingkan sahabatnya dari dirinya sendiri. Cinta yang berbingkai keimanan, tak akan pernah menyingkirkan rasa cinta pada Allah dan Rasul-Nya.#

Bersama YMI
Menyekolahkan Anak Yatim di Pelosok Desa
Ayo Jadi Orang Tua Asuh
CP. 0812.8815.0526 (WA)

0 Response to "Kisah Sahabat Nabi SAW saat Melamar Wanita"

Post a Comment