Cara Menyikapi Waktu

Serial Khutbah Jumat Ketua Umum YMI

Ba'da Tahmid dan Shalawat
Apa yang ada dalam benak anda ketika mendengar tanggal 9 Februari 2018? Atau waktu-waktu lain, tanggal 14 Maret 2017, 22 Juni 2015, atau tanggal lainnya?

Setidaknya ada dua golongan manusia yang memiliki cara berbeda dalam merespon datangnya waktu. Ketika mendengar tanggal, sebutlah tanggal sekarang 9 Februari 2018, golongan manusia yang pertama merespon "Kok waktu cepat banget ya, tiba-tiba sudah tanggal segitu aja." 

Sementara golongan yang kedua merespon "Waduh baru tanggal segitu ya, uang sudah hampir habis, bayar hutang dan belanja, mana gajian masih lama lagi...."

Bila anda termasuk golongan pertama, berarti anda termasuk manusia yang punya cita-cita tinggi dan sumber daya yang besar khususnya finansial untuk mewujudkan harapan anda, hanya saja anda butuh waktu lebih lama untuk mewujudkan. Kesuksesan hidup akan tergantung bagaimana anda memanfaatkan waktu yang tersedia.

Namun bila anda termasuk golongan yang kedua, berarti cita-cita anda terlalu tinggi dibandingkan sumber daya yang anda miliki. Istilahnya Nafsu besar tenaga kurang. Bila anda di posisi ini, berarti anda tidak menikmati hidup.

Jamaah Sidang Jumat yang Berbahagia
Ada yang menganggap waktu berjalan sangat cepat, ada yang beranggapan waktu bergerak begitu lambat. Termasuk golongan mana anda, itu akan dipengaruhi oleh cara pandang anda terhadap dunia. Bila anda menganggap dunia ini besar, harus punya ini dan itu, ingin tampil gengsi, itu karena hati anda begitu cinta dengan dunia. Maka anda akan berupaya menghadirkan kemewahan hidup sebelum waktunya tiba. 

Cara menghadirkan kemewahan itu adalah dengan berhutang. Atau menipu, mencuri dan seterusnya. Itulah mengapa orang yang biasa berhutang akan terus bertumpuk hutangnya untuk melayani gengsi hidupnya, nanti pada suatu titik dia akan menghadapi kebosanan karena harus lari dari tumpukan hutang yang terus mengejarnya. Sama seperti orang yang mengejar kemewahan dengan mencuri dan korupsi, suatu saat pun akan menghadapi penjara (baik penjara sosial maupun penjara sesungguhnya), sehingga saat itu dia merasa waktu berjalan begitu lambat.

Sebaliknya, bila anda menganggap dunia ini kecil, maka anda akan berburu bekal di dunia untuk mendapatkan kemewahan abadi di akhirat. Dunia untuk mencari bekal, akhirat adalah tempat untuk menikmati hasil perbekalan itu.

Allah SWT berfirman "Kejarlah Negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah SWT kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia." (Al-Qashash : 77).

Bukan dibalik, mengejar dunia dulu, nanti kalau sudah tua baru mengejar kehidupan akhirat. 

Dunia ini tak lama. Ada yang 20 tahun usianya, ada yang 35 tahun, 60 tahun, paling lama 90 tahun, diatas itu sudah tak paham lagi arti hidup dunia. Tak nikmat dengan cara apapun. Sedangkan akhirat, bukan sekedar ratusan atau jutaan tahun. Akhirat itu tak berbatas, tak berhenti. 

Itulah mengapa Rasulullah SAW bersabda, "Seandainya dunia ini disisi  Allah SWT senilai harganya dengan sayap nyamuk, niscaya Allah tidak akan memberi minum seteguk pun kepada orang kafir." (HR. Tirmidzi).

Nyamuk adalah binatang yang tidak disukai manusia. Bila bertemu nyamuk, pasti akan dibunuh manusia. Nah, dunia itu tak senilai harganya dengan sayapnya nyamuk. Sangat ringan, tak ada artinya dibanding kebahagiaan akhirat. Manusia yang hanya mencari kenikmatan dunia, maka kenikmatannya tak lebih berat dari sayap nyamuk.

Jamaah Sidang Jumat yang Berbahagia
Karena itu, janganlah berburu sayap nyamuk, buru lah yang jauh lebih besar dari itu semua. Karena ketika kita memburu akhirat, maka dunia akan mengikuti.

"Barang siapa menjadikan akhirat sebagai tujuan hidupnya, maka Allah SWT akan mengumpulkan segala urusannya dan menjadikan kekayaan memenuhi hatinya, dan dunia akan mendatanginya." (HR. Ibnu Majah).

Barokallah Lii Walakum

Adhi Azfar, ST, ME
Ketua Umum YMI

0 Response to "Cara Menyikapi Waktu"

Post a Comment