Kisah Empat Sekawan Pengamen yang Bangun Rumah Qur'an di Lampung Selatan

Kalau pergi ke Lampung Selatan jangan lupa singgah di Desa Branti Raya, Kecamatan Natar. Disana ada empat sekawan "pengamen" yang sedang membangun Rumah untuk anak-anak yatim dhuafa. 

Tentu anda akan dijamu empat sekawan ini dengan berbagai makanan dan minuman yang sederhana namun enak. Tak perlu sungkan, meski mereka sedang keliling "ngamen" cari dana untuk menyelesaikan pembangunan Rumah Qur'an bagi anak-anak yatim di desa, namun jamuan pasti ramah, kekeluargaan dan menyenangkan.

Empat sekawan ini adalah pengurus YMI Lamsel, terkenal dengan julukan sang pengamen YMI. Mirip semua, perbedaannya hanya pada teknis mengamennya. "Kalau kami bertiga Ust Iwan Ansori, Bunda Yani dan saya ngamennya manual door too door," ujar pengurus YMI Lamsel Zainal Abidin.

"Karena keseringan ngamen, sekarang orang-orang pada datang ke rumah untuk kasih sumbangan dana bagi pembangunan Rumah Yatim di desa kami," tambah Zainal menceritakan kisah pengalaman dan perjuangannya ngamen cari dana.

Rumah Yatim ini sedang memasuki tahap pembangunan lantai 2, yang akan dijadikan tempat belajar Al-Qur'an anak yatim dan dhuafa binaan YMI Lampung Selatan. Rumah Qur'an ini terletak di Dusun Danurejo, desa Branti Raya, tidak jauh dari bandara Raden Inten 2 Lampung, hanya 500 meter sebelum bandara.

"Kalau cari di google map, klik batu ceper desa Branti, pasti ketemu. Sangat mudah di cari Rumah Qur'an kami," tutur Bunda Yani, salah satu "pengamen" Rumah Qur'an.

Dari empat sekawan ini, masing-masing punya keunikan tersendiri. "Kalau kami bertiga, yaitu Bunda Yani, Ustadz Iwan yang merupakan Ketua Cabang YMI Lamsel, dan saya, ngamennya benar-benar tradisional seperti pengamen pada umumnya, datang ke rumah warga, menjelaskan tentang terus bertambahnya anak yatim di desa Branti Raya dan sekitarnya (akibat tingginya angka kematian ayah di desa ini), lalu dapat uang cash atau barang untuk bangun rumah agar anak-anak yatim tersebut bisa belajar lebih nyaman," ungkap Zainal.

"Sedangkan kawan yang satu lagi adalah pemudi zaman now. Bernama Angger Putri Mahardini. Cara ngamennya Angger beda. Dia berkeliling di dunia digital. Modern lah begitu kira-kira. Tetap disebut pengamen, hanya saja sebutannya pengamen medsos.  Caranya, lewat WA, Facebook, dan media sosial lainnya. Pokoknya keren," sambung Ustadz Iwan Ansori menjelaskan.

Meski berbeda bentuk, namun empat sekawan ini selalu berkomunikasi dengan berbagai bentuk pula. Kopi darat, Komunikasi via WA, saling titip pesan, termasuk saling menasehati dan menyemangati diantara mereka. 

"Intinya mencari keberkahan, walaupun sedikit demi sedikit, yang penting konsisten. Disinilah indahnya kebersamaan sebagaimana yang sering dipesankan oleh Ketua Umum YMI dalam setiap Rakernas YMI yang digelar setahun sekali," ungkap Zainal.

"Semoga kebersamaan kami ini bisa menuntun kami ke Syurga Allah SWT kelak," pungkas Bunda Yani. #

Bersama YMI
Bangun Rumah Yatim di Pelosok Desa
Ayo Jadi Orang Tua Asuh
CP. 0822.1109.2410 (WA)

0 Response to "Kisah Empat Sekawan Pengamen yang Bangun Rumah Qur'an di Lampung Selatan"

Post a Comment