Biarkanlah Kids Zaman Now Berlarian di Masjid, Ikutlah Mendidik Mereka

Kita semua sepakat bahwa tidak ada keberlangsungan dakwah melainkan ada perhatian terhadap upaya pembinaan anak dan remaja. Dan ketahuilah pembinaan yang prioritas dan terdekat adalah terhadap pasangan, anak-anak dan keluarga terdekat kita. Demikian Arahan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu (Muhammad) yang terdekat (QS.Asy-Syuara : 214).

Wacana yang harus terbangun adalah Pembinaan atau Tarbiyah terasa berat jika diemban orang per orang atau Keluarga per Keluarga, karena itu Allah karuniakan nikmat Berjamaah.

Salah satu bahasan yang mendesak untuk disampaikan adalah berjamaah dalam proses pembinaan dan pendidikan anak-anak kita.

Anak sudah mendapatkan Nilai-nilai Tarbiyah dalam keluarga namun hal ini belum cukup melainkan harus dilengkapi dari lingkungan tempat mereka interaksi, mengingat mereka adalah makhluk sosial. Untuk itu kekompakan lingkungan dalam rangka mendesain pendidikan bersama menjadi suatu keharusan untuk dibahas.
Misal jika di rumah sudah diajarkan makan dan minum menggunakan Tangan Kanan, maka baik sekali jika lingkungan turut andil mengingatkan apabila anak khilaf atau memberikan apresiasi jika anak tertib.

Beberapa kondisi masyarakat belum siap terhadap hal ini, atau disayangkan jika lingkungan dakwah juga tidak siap akan hal ini.

Fenomena pengurus masjid mengusir dan menghardik anak-anak di masjid seharusnya tidak terjadi, karena tidak memberikan apapun kecuali dampak negatif kepada anak bahwa masjid bukan tempat ramah anak.

Atau lingkungan Dakwah dengan segala penghuninya yang tidak perhatian terhadap anak-anak juga harus menjadi perhatian, mengingat kelak anak-anaklah yang diharapkan menjadi pelanjut dakwah Abi dan Umminya. 

Khawatir Kegiatan ta'lim terganggu? Gampang, sediakan saja Play Ground lengkap dengan Flying fox nya yang safety dalam standar dunia akhirat.

Masih merasa terganggu juga? Silakan renungkan hadits-hadits ini, bagaimana Rasulullah SAW memberikan perhatian terhadap anak-anak.

Pertama, adalah Sahabat Nabi yang bernama Syaddad ra meriwayatkan, bahwa Rasulullah datang ke masjid mau shalat Isya atau Zuhur atau Asar sambil membawa salah satu cucunya Hasan atau Husein, lalu Nabi maju kedepan untuk mengimami shalat dan meletakkan cucunya di sampingnya, kemudian nabi mengangkat takbiratul ihram memulai shalat. 

Pada saat sujud, Nabi sujudnya sangat lama dan tidak biasanya, maka saya diam-diam mengangkat kepala saya untuk melihat apa gerangan yang terjadi, dan benar saja, saya melihat  cucu nabi sedang menunggangi belakang nabi yang sedang bersujud, setelah melihat kejadian itu saya kembali sujud bersama makmum lainnya. Ketika selesai shalat, orang-orang sibuk bertanya, “wahai Rasulullah, Baginda sujud sangat lama sekali tadi, sehingga kami sempat mengira telah terjadi apa-apa atau Rasulullah sedang menerima wahyu.”

Rasulullah menjawab, “Tidak, tidak, tidak terjadi apa-apa, cuma tadi cucuku mengendaraiku, dan saya tidak mau memburu-burunya sampai dia menyelesaikan mainnya dengan sendirinya.” (HR. Nasa’i dan Hakim)

Kedua, Abdullah Bin Buraidah meriwayatkan dari ayahandanya, Rasulullah sedang berkhutbah -di mimbar masjid- lalu -kedua cucunya- Hasan dan Husein datang -bermain-main ke masjid- dengan menggunakan kemeja kembar merah dan berjalan dengan  sempoyongan jatuh bangun -karena memang masih bayi- lalu Rasulullah turun dari mimbar masjid dan mengambil kedua cucunya itu dan membawanya  naik ke mimbar kembali, lalu Rasulullah berkata, “Maha Benar Allah, bahwa harta dan anak-anak itu adalah fitnah, kalau sudah melihat kedua cucuku ini aku tidak bisa sabar.” Lalu Rasulullah kembali melanjutkan khutbahnya. (HR. Abu Daud)

Ketiga, dalam Hadis lain diceritakan, bahwa Rasulullah shalat, dan bila beliau sujud maka Hasan dan Husein bermain menaiki belakang Rasulullah. Lalu, jika ada sahabat-sahabat yang ingin melarang Hasan-Husein maka Rasulullah memberi isyarat untuk membiarkannya, dan apabila setelah selesai shalat Rasulullah memangku kedua cucunya itu. (HR. Ibnu Khuzaimah)

Keempat, Abu Qatadah ra mengatakan, “Saya melihat Rasulullah SAW memikul cucu perempuannya yang bernama Umamah putrinya Zainab di pundaknya, apabila beliau shalat maka pada saat rukuk Rasulullah meletakkan Umamah di lantai dan apabila sudah kembali berdiri dari sujud maka Rasulullah kembali memikul Umamah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kelima, pada Riwayat Lain Dari Abu Qatadah, mengatakan “Pada saat rukuk Rasulullah meletakkan Umamah di lantai dan apabila sudah kembali berdiri dari sujud maka Rasulullah kembali memikul Umamah. Dan Rasulullah terus melakukan hal itu pada setiap rakaatnya sampai beliau selesai shalat.” (HR.Nasa’i)

Keenam, dalam hadis yang lain Rasulullah berkata, “Kalau sedang shalat, terkadang saya ingin shalatnya agak panjangan, tapi kalau sudah mendengarkan tangis anak kecil -yang dibawa ibunya ke masjid- maka sayapun menyingkat shalat saya, karena saya tahu betapa ibunya tidak enak hati dengan tangisan anaknya itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketujuh, Anas meriwayatkan, “Pernah Rasulullah shalat, lalu beliau mendengar tangis bayi yang dibawa serta ibunya shalat ke masjid, maka Rasulullah pun mempersingkat shalatnya dengan hanya membaca surat ringan atau surat pendek. (HR. Muslim)

Kedelapan, pada hadis lain diriwayatkan bahwa Nabi memendekkan bacaannya pada saat shalat Subuh (dimana biasanya selalu panjang), lalu sahabat bertanya, “Ya Rasulullah kenapa shalatnya singkat, enggak biasanya? Rasulullah menjawab, “saya mendengar suara tangis bayi, saya kira ibunya ikutan shalat bersama kita, saya kasihan dengan  ibunya.” (HR. Ahmad)

Sembilan, Sahabat Nabi yang bernama Rabi’ menceritakan bahwa pada suatu pagi hari Asyura Rasululah mengirim pesan ke kampung-kampung sekitar kota Madinah, yang bunyinya “Barang siapa yang sudah memulai puasa dari pagi tadi maka silahkan untuk menyelesaikan puasanya, dan bagi yang tidak puasa juga silahkan terus berbuka.”

Sejak saat  itu kami senantiasa terus berpuasa pada hari Asyura, begitu juga anak-anak kecil kami banyak yang ikutan berpuasa dengan kehendak Allah, dan kami pun ke masjid bersama anak-anak. Di masjid kami menyiapkan mainan khusus buat anak-anak yang terbuat dari wool. Kalau ada dari anak-anak itu yang tidak kuat berpuasa dan menangis minta makan maka kamipun memberi makanan perbukaan untuknya.” (HR. Muslim)

LCD proyektor yang pecah, Microphone yang patah, piring yang terbelah, tembok yang kotor karena coretan, suara bising yang menggangu tidaklah senilai dibandingkan dengan kesempatan anak-anak berinteraksi dengan Robb-Nya di tempat ibadah maupun kantor Dakwah.

Jika sejak kecil mereka tidak beredar di sekitar tempat ibadah dan kantor dakwah, maka bersiaplah kerepotan membujuk mereka di usia remaja untuk ke tempat ibadah apalagi kantor Dakwah.

@Muhamadhadikusumah

Bersama YMI
Menyekolahkan Anak Yatim di Pelosok Desa
Ayo Jadi Orang Tua Asuh
CP. 0822.1109.2410 (WA)

0 Response to "Biarkanlah Kids Zaman Now Berlarian di Masjid, Ikutlah Mendidik Mereka"

Post a Comment