Julaibib, Sosok Tak Menarik yang Diperebutkan Bidadari

Serial Khutbah Jumat
Ketua Umum YMI
Jumat, 25 November 2017

Ba’da Tahmid dan Shalawat
Tersebutlah seorang bernama Julaibib, hidup dimasa Rasulullah SAW. Nama seperti ini tidak lazim di kalangan masyarakat Arab. Bukan sekedar nasab dan sukunya yang tak jelas, Julaibib lahir tanpa diketahui siapa ayah dan ibunya. Orang-orang pun tak tahu darimana dia berasal.

Tak hanya itu, wajah Julaibib tak menarik. Buruk rupa. Kulitnya hitam, tubuhnya pendek, bungkuk. Ia juga sangat miskin, tidurnya hanya beralas pasir dan kerikil, kakinya pecah-pecah karena tidak pernah mengenakan alas kaki.

Suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepadanya, “Wahai Julaibib, tidakkah engkau ingin menikah?” Julaibib menjawab, “Siapalah orang tua yang rela menikahkan anak gadisnya denganku, Ya Rasululllah SAW.” Esoknya, Rasulullah SAW kembali bertanya dengan pertanyaan yang sama, hingga pada hari ketiga Rasulullah SAW mengajak Julaibib ke rumah seorang petinggi Anshar.

"Aku ingin menikahkan putrimu," kata Rasulullah SAW kepada tuan rumah. Pemimpin Anshor tersebut pun kaget. Tersentak, girang bukan kepalang. "Alangkah beruntungnya aku, putriku akan diperistri oleh Rasulullah SAW," gumamnya dengan wajah berseri-seri. Namun Rasulullah SAW langsung meluruskan, "Ini bukan pinangan untukku, tapi untuk Julaibib."

Wajah pemimpin Anshor itu pun berubah menjadi muram. Sebab, putrinya adalah wanita yang terkenal dengan kecantikan dan kelembutannya, wanita yang sholehah. Wanita yang bukan sekedar cantik, tapi terkenal dengan kecantikannya. Ditengah situasi tersebut, putrinya yang mendengar percakapan ini berujar, "Ayah, apapun yang Rasulullah SAW kehendaki, Insya Allah akan membawa keberkahan, aku akan menerima pinangan Julaibib."

Wajah hitam buruk rupa itu pun bersanding dengan putri penguasa cantik jelita. Mereka menikah. Malam pertama pun tiba, Julaibib terkagum-kagum saat sang istri menyingkap tabir wajahnya. Seulas senyum ditengah wajah putih halus menyapanya dengan cinta.

Saat percikan cinta sedang membuncah, terdengar ketukan pintu, "Panggilan Jihad dari Rasulullah SAW." Bergegas Julaibib menyambut seruan itu diitengah air mata sang istri. Sang istri ridho. Julaibib pun berkata, "Bunga cinta baru saja mekar dihatiku, namun cintaku kepadamu tak sepantasnya menghalangiku untuk memenuhi panggilan-Nya."

Perang pun berkecamuk, Julaibib Syahid dalam perang tersebut. Setelah Julaibib dimakamkan, Rasulullah SAW meneteskan air mata sembari melihat gundukan tanah yang masih basah, lalu memandang ke langit dan tersenyum, setelah itu membuang pandangannya ke samping seraya menutup mata dengan telapak tangan. Para sahabat pun bertanya, "Ada apa gerangan Ya Rasulullah SAW?"

"Aku menangis karena hari ini dia menikah dan seharusnya dia sedang berbahagia bersama istrinya, namun hari ini juga dia tiada."

"Saat memandang langit, aku melihat para bidadari turun menjemput Julaibib, aromanya wangi semerbak."

"Lalu mengapa engkau memalingkan wajah Ya Rasulullah SAW," tanya para sahabat lagi.

"Bidadari yang menjemput Julaibib begitu banyak, mereka saling berebut, ada yang meraih tangannya, ada yang kakinya, hingga salah satu dari bidadari-bidadari itu tersingkap kainnya dan terlihat betisnya."

Jamaah Sidang Jumat yang Berbahagia
Ketaatan. Ini pesan yang diajarkan Julaibib untuk umat Rasulullah SAW. Disaat dia sedang berada dalam momentum kesenangan, cinta sedang mekar berbunga, Julaibib meninggalkan itu semua untuk memenuhi panggilan Perang.

Apa yang ingin ia lakukan halal, sah, berpahala, bernilai ibadah. Istrinya pun cantik, putri seorang pembesar Anshor, dan itu adalah malam pertama pernikahannya. Siapa diantara kita yang sanggup melakukannya?

Keduanya bernilai ibadah. Menggauli istri adalah ibadah, berperang adalah ibadah dalam rangka memenuhi perintah Allah SWT. Bedanya, ibadah pada malam pertama pernikahan tentu nikmat bukan kepalang, sedangkan berperang adalah sesuatu yang dibenci kaum muslimin, tak terkecuali di zaman Rasulullah SAW.

"Diwajibkan atas kamu berperang padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci." (QS.Al-Baqarah : 216).

Julaibib bukan berpindah dari kubangan dosa menuju kebaikan. Dia move on dari ibadah yang (boleh jadi) paling nikmat kepada aktifitas ibadah yang dibenci. Pengorbanan yang besar, pasti ganjarannya sangat besar. Itulah mengapa tak hanya 1 bidadari yang menunggu Julaibib, tapi banyak bidadari turun memperebutkan sang miskin yang buruk rupa itu.

Kemiskinan, buruk rupa, kekurangan harta, tak menjadikan Julaibib memprotes Allah SWT. Menjalani apa yang telah menjadi ketetapan Allah SWT atas dirinya, membuat Julaibib memperoleh perhatian dari Rasulullah SAW, sampai-sampai Rasulullah SAW berkenan mencarikan istri untuk Julaibib bahkan mengantarkannya. Tawakal, menjadi kunci sukses Julaibib yang membawanya berjumpa bidadari-bidadari Surga.

Barokallahu Lii Walakum.

Adhi Azfar, ST, ME
Ketua Umum YMI

0 Response to "Julaibib, Sosok Tak Menarik yang Diperebutkan Bidadari"

Post a Comment