Kisah Nyata, Sedekah Kami Membungkam Teori Hirschsprung

Sebelas (11) tahun yang lalu, putra ketiga kami, Musyafa Abdul Aziz, lahir. Tepatnya pada tanggal 20 Juli 2006. Tidak seperti kedua kakaknya, anak ketiga kami lahir dalam keadaan tidak normal. Pada bayi normal, dalam waktu 24 jam sudah mengeluarkan mekonium (buang air besar pertama kali berwarna hitam). Paling lama dalam waktu 48 jam. Namun Syafa tidak begitu, ia malah berhari-hari tidak buang air besar, bahkan sampai 2 minggu. 

Perutnya pun bertambah besar, sampai terlihat urat-urat perutnya yang berwarna hijau. Bayi mungil itu terus menerus menangis.
Kami segera memeriksakan ke Dokter terdekat, dibilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan. ”Ini harus dirawat inap, harus dirontgen”, demikian rekomendasi Dokter tersebut. Di usia 2 minggu kelahiran, Musyafa pun menjalani rontgen dibagian perutnya untuk mengetahui bagian-bagian syaraf yang tidak bekerja.
Hasilnya, ia divonis menderita kelainan usus, yang disebut kelainan Hirschsprung, yaitu adanya bagian-bagian syaraf diusus yang tidak bekerja, sehingga makanan yang masuk ke usus tidak bisa dikeluarkan melalui anus. Dengan kata lain, makanan mengendap di dalam usus bagian bawah.
Kelainan hirschsprung terjadi pada persarafan usus besar paling bawah, mulai anus hingga ke bagian usus di atasnya, termasuk ganglion parasimpatis, yang mengatur pergerakan usus hingga membuat usus dapat bergerak melebar dan menyempit. Pada bayi yang punya kelainan hirschsprung, persarafan ini tak ada sama sekali, atau kalaupun ada, sedikit sekali.
Disebut kelainan Hirschsprung, karena yang menemukannya adalah seorang bernama Harold Hirschsprung, pada 1887 di Jerman. Menurut Teori Hirschsprung, bayi yang menderita kelainan usus Hirschsprung harus dioperasi, tidak ada jalan lain!
Tidak puas dengan vonis ini, kami berdua mencari opini kedua dari beberapa dokter, termasuk ke dokter spesialis yang bergelar Profesor Doktor Dokter yang menangani khusus pencernaan anak. Hasilnya, Musyafa tetap harus dioperasi, tidak ada jalan lain!
Operasi yang akan dilakukan adalah dengan membuat lubang pada dinding perutnya (disebut kolostomi) agar kotoran keluar lewat lubang tersebut (jadi buang air besarnya tidak lewat anus, tapi lewat lubang buatan tersebut).
Kami berdua hanya bisa tawakal dan terus berdoa. Bukan karena tidak bisa menutupi biaya operasi dan perawatan yang mencapai Rp.8 Juta, namun tidak tega melihat penderitaan Abdul Aziz yang perutnya semakin besar.
Sebelum berangkat ke Dokter Bedah di bilangan Jagakarsa, Jakarta Selatan tersebut, kami menyempatkan bersedekah ke sebuah Lembaga Dakwah. Sampai di Dokter Bedah, beliau mencoba mengeluarkan kotoran dengan mencolokan benda seperti besi tumpul berdiameter ± 2 mm dan panjang ± 10 cm kedalam anus Abdul Aziz-maaf,
Ternyata, kotoran Abdul Aziz dapat keluar bersama darah. mungkin karena sudah lama mengendap. ”Alhamdulillah”, kalimat ini spontan terlontar dengan keras dari lidah kami berdua. Dokter bedah pun menyarankan agar mencoba dilakukan cara seperti itu (mencolokan besi tumpul tersebut agar Abdul Aziz bisa buang air besar). ”Coba dulu, kalau dia bisa buang air besar, operasi bisa kita tunda sampai dia berusia satu tahun”, ujar sang Dokter.
Hari demi hari kami berusaha disiplin untuk mengontrol agar putra kami dapat buang air besar tiap hari. Bila sampai sore hari belum buang air besar, kami segera mencolokan besi tumpul tersebut kedalam anusnya, agar ia bisa buang air besar.
Saat melakukan hal tersebut, tak lupa kami berdoa agar anak kami dapat buang air besar dengan normal. Setiap selesai shalat pun kami selalu berdoa agar anak kami dapat terhindar dari operasi. Yang sangat kami ingat saat itu, kami selalu menyempatkan bersedekah rutin setiap bulannya, walaupun terkadang kesulitan keuangan, Alhamdulillah, komitmen sedekah setiap bulan dapat terpelihara. Hal ini dibuktikan dengan kartu sedekah yang dikeluarkan Lembaga Dakwah tempat kami bersedekah. Tidak pernah kami bolong bersedekah walaupun hanya satu bulan.
Memasuki bulan ketujuh, kami mendapat berita yang mengagetkan, ternyata Dokter Bedah mengatakan, ” Musyafa Abdul Aziz dapat terhindar dari operasi, karena syaraf-syarafnya sudah mulai bergerak karena colokan-colokan besi tumpul tersebut.” Yang paling membahagiakan kami, dalam usianya yang menginjak dua tahun, ia kemudian dapat buang air besar sendiri. ”Subhanallah, Walhamdulillah, Laa haula wala Quwwata illa billah.”

(Tulisan ini berdasarkan kisah nyata kami. Kami tulis bukan untuk bermaksud riya tetapi ingin mengambil hikmah tentang dahsyatnya kekuatan sedekah. Tulisan ini juga sudah kami bukukan pada buku "Hidup Jadi Mudah dengan Zakat" karya sang ayah Adhi Azfar, yang juga adalah Ketua Umum YMI)

0 Response to "Kisah Nyata, Sedekah Kami Membungkam Teori Hirschsprung"

Post a Comment