Tiga Model Manusia dalam Pilkada 2017

Serial Khutbah Jumat Ketua Umum YMI Adhi Azfar
Jumat, 14 April 2017

Ba’da Tahmid dan Shalawat

Jamaah Sidang Jumat yang Berbahagia

Dalam sejarah Islam, salah satu pertarungan eksistensi umat Islam yang paling masyhur adalah Perang Badar. Begitu penting dan menentukannya perang badar ini, sampai-sampai Rasulullah SAW berdoa

اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

Ya Allah Azza wa Jalla , jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini. (HR. Muslim 3/1384 Hadits No.1763).

Rasulullah SAW pun menutup doanya dengan kalimat

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِيْ 

Ya Allah Azza wa Jalla, penuhilah janji-Mu kepadaku

Dalam riwayat ini juga disebutkan bahwa beliau SAW terus bermunajat kepada Allah SWT hingga sorban beliau jatuh dari pundak. Abu Bakar r.a datang dan mengambil sorban tersebut kemudian meletakkan kembali di pundak beliau. Abu Bakar r.a berkata, “Wahai Nabiyullah, sudah cukup engkau bermunajat kepada Rabbmu dan Allah Azza wa Jalla pasti akan memenuhi janji-Nya.”

Kemudian turunlah Firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 9, “(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sesungguhnya aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu Malaikat yang datang berturut-turut.”

Peristiwa diatas menunjukkan bagaimana Rasulullah SAW menyadari situasi yang menegangkan, eksistensi umat dipertaruhkan. Kemenangan dalam perang Badar membawa keyakinan bagi kaum muslimin untuk terus eksis dan menyebarkan dakwah Islam.

Pertaruhan mempertahankan eksistensi umat Islam kini terjadi dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017. Dulu eksistensi umat Islam dipertahankan lewat peperangan, kini medan pertarungan itu berpindah ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Dulu Islam dipertahankan dengan menghunuskan pedang, sekarang dengan sistem demokrasi.

Jamaah Sidang Jumat yang Berbahagia
Dalam berbagai peperangan yang dijalankan Rasulullah SAW dan kaum muslimin, selalu muncul model-model manusia yang beragam sifat dan perilaku. Setidaknya ada 3 model manusia, yaitu pertama, manusia yang benar-benar berjuang dengan jiwa dan hartanya untuk memenangkan pertarungan. Kedua, manusia yang menunggu keuntungan apa yang akan dia dapatkan dari pertarungan itu. Ketiga, manusia yang  munafik dan berkhianat dari tujuan perjuangan.

Para Sahabat Rasulullah SAW seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab telah menunjukkan bagaimana berjuang dengan jiwa dan harta. Saat perang Tabuk, Umar bin Khattab mensedekahkan setengah hartanya, dan Abu Bakar menginfaqkan seluruh hartanya. Mereka juga menghunuskan pedang melawan kaum kafir Quraisy. Diantara para sahabat, ada juga yang terlena dengan harta, seperti saat perang Uhud, para sahabat yang diminta untuk tetap bertahan di bukit Uhud tak kuat menahan nafsu ingin mengambil harta ghonimah (rampasan perang) yang sudah bertaburan di medan pertempuran. Mereka pun turun dari bukit uhud dan mengambil ghonimah.

Kisah manusia munafik di zaman Rasulullah SAW, ada pada diri Abdullah bin Ubay. Juga ada kisah wanita-wanita munafik yang mencemooh wanita muslimah ketika wanita-wanita muslimah tersebut ditinggal para suaminya yang sedang bertarung di perang Tabuk. Wanita-wanita munafik itu mencemooh dengan kalimat “Kasihan kalian semua, pada saat paceklik seperti ini, tidak ada makanan tidak ada air, kalian justru ditinggal oleh suami kalian berperang.” Lalu wanita-wanita muslimah itu menjawab, “Sesungguhnya yang pergi berperang itu adalah tukang makan, yang sehari-hari menghabiskan makanan di rumah kami, sedangkan yang memberi rezeki kepada kami adalah Allah SWT.” Kalimat jawaban yang dilontarkan oleh wanita-wanita muslimah ini disebutkan dalam Al-Qur’an sebagai Qaulan Baligho (perkataan yang membekas), yang tercantum dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 63.

Tiga model manusia itu juga selalu muncul dalam perang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Karakternya kurang lebih sama. Ada yang benar-benar memperjuangkan kemerdekaan, ada yang sekedar ingin mengambil keuntungan sesaat, dan ada yang berkhianat dan munafik. Kita mengenal pejuang-pejuang kemerdekaan kita, mulai dari Bung Karno, Bung Hatta, KH.Agus Salim, Moh. Natsir, KH. Wahid Hasyim, KH. Ahmad Dahlan, Teuku Imam Bonjol, Cut Nyak Dien, dan lain sebagainya. Disaat yang sama, kita juga mendengar cerita-cerita pengkhianatan. Salah satu pengkhianatan yang perlu kita ketahui adalah pengkhianatan Laskar Po An Tui, yaitu orang-orang Cina di Indonesia yang loyal kepada Belanda.

Tugas laskar Po An Tui selain menjadi mata-mata juga untuk meneror pejuang pribumi. Aksi Po An Tui itu tergolong kejam bahkan lebih kejam dibanding dengan tentara Belanda. Sayangnya, dalam penulisan sejarah, keberadaan dan tindak tanduk laskar Po An Tui cenderung diabaikan. Ada upaya sistematis untuk menghilangkan fakta sejarah ini.

Saat peristiwa Westerling yang menebar teror di Bandung dan berniat membunuh Menteri Pertahanan Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Lalu Westerling berhasil kabur ke Singapura. Jenderal TNI (Purn) Abdul Haris Nasution yang kala itu menjabat KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) dalam bukunya “Memenuhi Panggilan Tugas” mengisahkan bahwa setelah menebar teror di Bandung, dan jadi buronan pasukan Siliwangi, Westerling berhasil lolos ke Jakarta. Tapi persembunyiannya di Jakarta (Tanjung Priok) akhirnya berhasil diendus oleh satuan CPM dari KMKBDR (Komando Militer Kota Besar Djakarta Raja), khususnya sub KMK Tanjung Priok.

Westerling pun tertangkap. Namun, saat hendak digelandang ke KMK, secara tiba-tiba Westerling dan ajudannya memberondong satuan CPM, dan melarikan diri ke arah Zandvoort (pantai Sampur). Di pantai itu telah menunggu sebuah pesawat Catalina yang kemudian membawa Westerling kabur ke Singapura. Mudahnya Westerling kabur ke Singapura, karena ia memiliki hubungan istimewa dengan Laskar Po An Tui, orang-orang Cina yang mengkhianati perjuangan bangsa Indonesia.

Cerita pengkhianatan dan penyamaran juga kita pernah dengar sosok seorang bernama Snouck Hurgronje, yang menjadi penasihat khusus kolonial Belanda urusan (Islam) di Hindia Belanda. Untuk kepentingan kolonial Belanda itu Snouck menyamar sebagai orang Islam dan masuk ke Makkah selama 6,5 bulan dengan nama samaran  Abdul Gaffar. Snouck pun bisa menemui sejumlah syeikh di Makkah bahkan ulama tertinggi saat itu, Ahmad bin Zaini Dahlan. 

Kelihaian Snouck di Aceh pun menguntungkan bagi Belanda. Snouck mampu mengorek rahasia-rahasia yang “dijual” oleh seorang pengkhianat tentang ulama dan umat Islam Aceh. Lalu Snouck yang mengusulkan kepada pemerintah Belanda untuk menghancurkan para ulama Aceh.


Jamaah Sidang Jumat yang Berbahagia

Sejarah perjuangan Islam, sejarah perjuangan meraih kemerdekaan, perlu menjadi pelajaran buat kita agar sejarah yang akan kita tulisa nanti akan menjadi cerita indah bagi anak dan cucu kita di kemudian hari. Sejarah perjuangan kita di Pilkada DKI 2017 ini akan bergoreskan tinta emas. Menangkan Islam dalam setiap aktifitas kita, pertahankan tanah umat Islam, pertahankan hak-hak rakyat disekeliling kita. Semoga kita senantiasa mendapatkan perlindungan dan pertolongan Allah SWT.

Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin, kuatkanlah iman dalam diri kami, berikanlah kami kekuatan untuk berjuang, mempertahankan bangsa ini, mempertahankan tanah ini, Mempertahankan hak-hak rakyat pribumi, mempertahankan hak-hak umat Islam dan mengusir penjajahan yang terselubung dan tersembunyi

Ya Allah, tunjukilah kepada kami yang benar adalah benar, dan berikan kepada kami kekuatan untuk memperjuangkannya, dan tunjukilah kepada kami yang salah adalah salah, dan kuatkan kami agar dapat menghancurkannya.

Ya Allah, kami sadar bahwa kami pernah bersalah, kami pernah berbuat dosa, namun jangan jadikan dosa itu sebagai penghalang doa kami Ya Allah, namun ampuni dosa kami, dan kuatkan kami untuk memenuhi panggilan-Mu.

Ya Allah, kami tahu bahwa diantara umat Islam masih ada yang belum sepenuhnya taat kepada firman-Mu, masih ada diantara kami umat Islam yang masih condong untuk memilih pemimpin kafir, tunjukilah mereka ya Allah, berilah hidayah kepada mereka, jangan kau sesatkan mereka, ampunilah dosa mereka ya Allah, agar dengan terampuninya dosa-dosa mereka, hati mereka terbuka untuk menerima hidayah-Mu.

Ya Allah, kami tahu bahwa diantara umat Islam masih ada memilih pemimpin kafir, kami pun sudah berupaya untuk menyadarkan mereka, maka buka lah pintu hati mereka ya Allah, Engkaulah yang Maha Memberi Petunjuk, Engkau lah yang mencabut dan memberi hidayah ya Allah….. Ya Muqollibal Quluuub, Tsabbit Qulubana Ala Thoatik.

Ya Allah, menangkanlah umat Islam dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 ini, berikan kepada kami pemimpin yang sholeh, pemimpin yang taat kepada perintah-Mu, pemimpin yang beriman dan mensejahterakan rakyatnya, bukan pemipin yang menggusur rakyatnya, bukan pemimpin yang merampas hak-hak rakyat atas tanah, bukan pemimpin yang arogan, yang sombong, yang menistakan agama.
Amin Ya Allah, Ya Rahman Ya Rahim.


Barokallahuli Walakum 

0 Response to "Tiga Model Manusia dalam Pilkada 2017"

Post a Comment