Ustadzah Juju Juwairiyah, Inisiator Pengajian Anak Desa Majasem



Tak mudah untuk memulai kebaikan dengan keterbatasan modal. Baik modal dana, jaringan dan pengetahuan. Apalagi di pelosok desa, yang minim sumber daya dan jauh dari perhatian pemerintah. Namun rintangan ini tak berlaku bagi Juju Juwairiyah, seorang guru ngaji di Desa Majasem, Cirebon. Dengan berbagai keterbatasan, pengajian untuk anak-anak desa dimulai dari rumahnya yang sederhana.

Awal tahun 2008, Juju mulai mengajak anak-anak khususnya yang yatim dan dhuafa untuk mengaji. Kondisi rumahnya sederhana, dinding rumahnya tak di plester sehingga terlihat tumpukan bata merah. Saat itu tak ada kursi, meja dan papan tulis, apalagi perabotan dan furniture selayaknya ruang belajar anak-anak. “Di ruangan berukuran 3x4 meter, ada 2 anak desa yang belajar, Syarif Hidayat dan Dede Saputra, sebagai murid pertama beliau,” ujar Ketua YMI Cirebon Subhan Salim saat pertama kali berjumpa Inisiator Pengajian Anak Desa itu di tahun 2008.

Pertemuan ini di kisahkan Subhan melalui jaringan komunikasi grup YMI, “Ketika itu saya aktif dalam sebuah organisasi ekstra kampus dan mendapatkan amanah di bidang sosial keagamaan, program kami adalah terjun ke desa membina masyarakat desa, disanalah kami berjumpa Bu Juju,” jelasnya.

Mengajar sendiri, di rumah sendiri, dengan dana sendiri. Inilah yang dilakukan Juju Juwairiyah. Bahkan hingga anak-anak desa yang mengaji di rumah beliau semakin banyak, Ustadzah Juju tetap mengajar sendiri, karena sulitnya mencari SDM yang mampu mengajar di desa.


“Dalam beberapa kesempatan saya coba bantu Ustadzah Juju. Bersama rekan-rekan di organisasi saya turut mengajar anak-anak tersebut, dan saya menemukan kondisi yang miris, banyak anak-anak desa yang tidak bisa baca Al-Qur’an, dan masyarakatnya yang tidak memahami pentingnya pendidikan,” jelas Subhan. Masyarakat desa punya prinsip lebih baik anak-anak mereka disuruh bantu orang tuanya bertani atau berdagang daripada sekolah,

Hari demi hari, tahun berganti, rumah Ustadzah Juju makin ramai dikunjungi anak-anak. “Belajar mengaji gratis,” ungkap salah satu anak. Suatu ketika Allah SWT mengaruniai beliau dengan kehamilan dari pernikahannya. Namun karena anak-anak yang mengaji makin ramai, dan beliau hanya sendiri yang mengajar, sehingga sulit mendapat waktu istirahat, tak lama setelah anak beliau lahir, Allah SWT memanggil kembali anak itu kepangkuan-Nya. “Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun, begitu besar pengorbanan seorang Ustadzah bernama Juju Juwairiyah,” ujar Subhan.

Kehilangan anak kandungnya tak membuat Ustadzah Juju patah semangat. Justri kini terus bertambah anak-anak asuh yang mengaji di rumahnya, yang sekarang salah satu ruangannya dijadikan Sekretariat YMI Cirebon dan TPA Munashoroh. Sejak tahun 2011, YMI berdiri di desa Majasem, dan menggulirkan program Orang Tua Asuh Anak Yatim Desa, anak-anak desa makin rajin dan semangat belajar Al-Qur’an. Anak-anak desa di Cirebon ini bahkan sudah mampu bersaing dengan anak-anak lainnya, “Mereka dapat gelar Runner-up pada kompetisi Nasional anak asuh YMI tahun 2015, dan meraih beberapa gelar begengsi di Cirebon Expo pada pertengahan 2016 lalu,” ungkap Subhan.

Ustadzah Juju, kini selain mengajar anak-anak binaan YMI Cirebon, juga menjadi Bendahara YMI Cirebon. “Berbagai amanah yang beliau emban selalu dioptimalkan, mengelola anak asuh, mengajari dan mendidik mereka serta mengatur keuangan Yayasan, kini beliau tak lagi sendiri, ada 6 orang pengurus YMI dan guru mengaji yang mendampingi beliau sehari-hari, semoga sukses terus Bu Juju, dan menginspirasi kita semua khususnya masyarakat di pelosok desa, agar umat Islam makin bertaqwa, cerdas dan sejahtera,” tandas Subhan.#  



Bersama YMI
Menyekolahkan Anak Yatim Di Pelosok Desa
Ayo Jadi Orang Tua Asuh…… CP : 0838.0453.7995 (WA)

0 Response to "Ustadzah Juju Juwairiyah, Inisiator Pengajian Anak Desa Majasem"

Post a Comment