Antara Aku dan Dia

Dalam menjalani kehidupan, memang sering kali dihadapkan pada pilihan-pilihan. Untuk memilih, tentu yang dilakukan adalah membandingkan. Namun terkadang, cara membanding-bandingkannya muncul secara spontan dalam wujud ketidakpuasan.

Ketika membeli barang.... Bila kita hanya mampu membeli tas seharga 500ribu rupiah. Lalu ada kawan kita yang juga membeli tas seharga 5juta rupiah, kita bilang kawan kita berlebihan. Padahal ia membelinya tak pakai uang kita. Ternyata ia sudah berhemat untuk tidak membeli tas seharga 40juta rupiah yang sesungguhnya sanggup ia beli.

Kita hanya mampu memiliki kuota uang belanja 5juta rupiah per bulan. Lalu ada kawan kita bercerita pengeluaran bahwa belanja bulanannya sampai 14juta rupiah, kita bilang ia boros.

Padahal ia tak pernah berhutang pada kita. Pinjam uang pun tidak. Ternyata ia sedekah lebih banyak dari uang belanjanya. Ternyata ia tak pernah lupa membayar zakat.

Dalam kehidupan rumah tangga... Kita merasa nyaman saat suami dekat dengan kita. Lalu ketika ada kawan kita yang diakibatkan berbagai kebutuhan, harus berpisah jarak dan waktu dengan suaminya, kita bilang kawan kita itu gegabah. Kita bilang ia menggadaikan rumah tangganya demi materi. Padahal ternyata ia tetap hidup rukun, saling setia dan bahagia dalam mengarungi bahtera rumah tangganya.

Demikian pun ketika kita hanya mampu menjadi ibu rumah tangga. Lalu ada kawan kita yang memilih bekerja sebagai pegawai, kita bilang ia menggadaikan masa depan anak. Padahal, ternyata ia bangun lebih pagi dari kita, berjumpa dengan anaknya lebih berkualitas dari kita, berbicara lebih lembut pada anaknya, dan berdoa lebih khusyuk pada Allah SWT untuk perlindungan anak-anaknya.

Ternyata siapa yang rugi? Tentulah kita. Belum-belum sudah menilai. Sangat mungkin terjerumus pada buruk sangka. Padahal kita tak pernah tahu apa yang sebenarnya orang lain hadapi, orang lain lakukan, di luar sepengetahuan kita.

Jangan mengukur sepatu orang lain dengan kaki kita. Jangan melihat orang lain hanya dengan menggunakan kacamata kita. Jangan pernah mengukur kehidupan orang lain dengan kehidupan kita, apalagi membandingkannya. Karena Allah SWT lebih mengetahui apa yang terbaik buat kita.#

Bersama YMI
Menyekolahkan Anak Yatim Hingga Pelosok Desa
CP: 0838.0453.7995

0 Response to "Antara Aku dan Dia"

Post a Comment