Mendengar Curhat Dhuafa, Menyimak Lika-Liku Hidup Mereka



Seringkali, kita terkesima dengan orang-orang yang hebat dalam berbicara, kita terkagum-kagum dengan mereka yang punya orasi mempesona, retorika yang mengagumkan atau pidato yang menggetarkan. Lalu dibuatlah seni dalam berbicara, pelatihan-pelatihan pidato, dan pendidikan agar bisa mahir berkhutbah. Urusan kemahiran bicara di depan umum, juga jadi bahan untuk diperdagangkan, dapat pembicara hebat bayarannya jutaan rupiah, da’i terkenal tarifnya puluhan juta, untuk mengangkat pembicara hebat agar populer di mata publik maka perlu menyewa tim media khusus dengan ‘tarif jumawa’ untuk mendesain popularitas dan pencitraan.

Itu urusan bicara. Sekarang bagaimana tentang mendengar. Pernahkah kita merasa kagum dengan orang-orang yang hebat dalam mendengar? Apakah kita pernah mengetahui nama tokoh-tokoh yang hebat dalam mendengar keluh-kesah dan curhat? Siapa yang lebih mempesona bagi kita antara orang yang punya orasi hebat dengan orang yang mau mendengar dengan seksama?

Secara umum, tak banyak orang yang mampu mendengar lebih lama dibanding berbicara. Tapi orang yang dikenal hebat karena mampu berbicara jauh lebih terpandang dibanding mereka yang punya kemampuan mendengar yang baik. Seni mendengar memang sudah ada, tapi masih kalah jauh popular dibanding seni berbicara.  

Selama bulan ini, Yayasan Munashoroh Indonesia (YMI) berkunjung ke desa-desa binaan hanya untuk menggunakan telinganya saja, mendengarkan keluh kesah warga desa binaan YMI, menyimak curhat dan lika-liku kehidupan mereka. Tidak ada acara mengumpulkan warga desa binaan di satu lokasi untuk diberikan ceramah dan dikasih sembako. Dipimpin langsung oleh Ketua Umum YMI, Adhi Azfar, berkunjung ke rumah-rumah warga desa binaan, satu per satu.

Abi (panggilan untuk Ketua Umum YMI) langsung mendengar jeritan hari rakyat yang sedang merana, yang merasa dikhianati para penguasa yang telah menjual aset-aset Negara, yang melakukan penaikan harga-harga kebutuhan pokok dan korupsi besar-besaran lalu meninggalkan hutang yang sukar dibayar bahkan hingga anak cucu mereka. Hanya tinggal satu saja harapan dhuafa-dhuafa itu, harapan agar bergerak tangan Kuasa-Nya untuk menindak mereka, para penguasa yang tak pernah berfikir atas apa mereka derita.

Diakhir perjumpaan dengan warga desa binaan, hanya satu kalimat yang Abi ucapkan mengutip ayat Allah SWT dalam Al-Qur’an, “Dan janganlah kau kira Allah lalai terhadap perbuatan orang-orang yang zalim. Kami hanyalah menunda mereka sampai suatu hari, saat seluruh mata membelalak. Mereka datang bergegas memenuhi panggilan dengan mengangkat kepala, sedang mata mereka tak berkedip-kedip dan hati mereka hampa.” (QS.Ibrahim : 42-43).

Melalui program YMI Mendengar ini, diharapkan berbagai permasalahan dhuafa di pelosok-pelosok desa dapat dipetakan dengan lebih baik, program-program YMI kedepan pun akan lebih tepat dan mengena. Manfaatnya bisa dirasakan oleh seluruh warga desa binaan, agar kemiskinan tidak “bekerja” turun temurun dan tidak menjalar kemana-mana. Amin Ya Allah. #

Bersama YMI
Menyekolahkan Anak Yatim Hingga Pelosok Desa

0 Response to "Mendengar Curhat Dhuafa, Menyimak Lika-Liku Hidup Mereka"

Post a Comment