Pemerintah Naikan Tarif Listrik, Usaha Kecil Makin Tertindas



Di penghujung tahun 2015 pemerintahan Jokowi-JK kembali memberi kado pahit untuk industri dan rakyat kecil, akhirnya PT. PLN (Persero) dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sepakat untuk memberlakukan Tarrif Adjustment (penyesuaian tarif) untuk seluruh golongan pelanggan listrik tak bersubsidi pada bulan Desember 2015. Dengan meknisme penyesuaian tarif listrik untuk golongan 1.300 volt ampere (VA) sampai 6.600 VA ke atas tiap bulan akan berfluktuasi yang didasarkan pada perubahan nilai tukar mata uang dolar AS terhadap rupiah, harga minyak, dan inflasi bulanan. Dengan adanya kebijakan baru tersebut, tentu akan berimbas pada sektor industri khususnya industri kecil dan menengah. Bagaimanakah kesiapan industri kecil dan menengah untuk menghadapi kebijakan baru dalam penerapan Tarif Dasar Listrik (TDL) pada golongan R1 dengan daya 1.300 VA dan 2.200 VA.

Pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 09 Tahun 2015 sebagai pengganti dari Permen ESDM Nomor 31 Tahun 2014 tentang Tarif Tenaga Listrik yang Disediakan oleh Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Perusahaan Listrik Negara. Dalam Permen ESDM Nomor 09 Tahun 2015 diatur pemberlakuan tarif tenaga listrik dengan daya 1.300 VA dan 2.200 VA diberlakukan mulai tanggal 1 Mei 2015, dilaksanakan setiap bulan apabila terjadi perubahan, baik peningkatan maupun penurunan salah satu dan/atau beberapa faktor yang dapat mempengaruhi biaya pokok penyediaan tenaga listrik, yaitu nilai tukar mata uang Dolar Amerika terhadap mata uang Rupiah, Indonesian Crude Price, dan/atau inflasi.

Pelaksana Tugas Kepala Satuan Komunikasi Korporat PLN,  Bambang Dwiyanto, menyatakan secara umum pada Desember 2015 tarif listrik bagi pelanggan yang sudah tidak disubsidi bakal mengalami penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Namun, mengutip daftar tarif listrik per Desember 2015, golongan R1 dengan daya 1.300 VA yang hampir rata-rata diperuntukkan untuk kebutuhan rumah tangga dan 2.200 VA yang sebagian besar diperuntukkan untuk usaha tarifnya berada di angka Rp. 1.509, 38 per kilo watt hour (kWh) atau malah naik 11% dibandingkan tarif sebelumnya Rp. 1.352 per kWh.

Kebijakan PLN menaikkan tarif dasar listrik golongan 1.300 VA – 2.200 VA memukul usaha dan industri kecil menengah. Pasalnya, kebijakan tersebut berdampak pada membengkaknya biaya operasional dengan kenaikan tarif dasar listrik sebesar 11%. Salah satu pelaku IKM asal Kota Makassar, Johari, mengungkapkan kenaikan TDL ini cukup memberatkan, meski dampaknya belum membuat usahanya gulung tikar. Usaha konveksi rumahan milik Johar yang memiliki 8 orang karyawan dengan penggunaan listrik golongan 2.200 VA terpaksa harus membayar biaya listrik lebih dari Rp. 1,5 juta per bulan. 

Direktur Jendral Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Euis Saedah, mengungkapkan pengaruh kenaikan TDL berdampak khususnya di sektor garmen dan fashion. Pasalnya, sektor usaha tersebut menggunakan listrik untuk keperluan menjahit. Euis mengungkapkan bahwa setidaknya terdapat sekitar 5-7% pengaruhnya untuk ongkos produksi. Dari hitungan industri, biaya tambahan yang diakibatkan karena kenaikan harga TDL bisa mencapai 7-10%. Kondisi itu akan bertambah jika ada kenaikan harga elpiji 12 kg, dan BBM subsidi. Euis Saedah mengatakan jika jumlah industri kecil yang ada di Indonesia pada saat ini mencapai 3,2 juta unit, diperkirakan 10 persen dari jumlah tersebut akan terkena dampak lansung dari kenaikan listrik, BBM dan gas elpiji. 

Salah satu upaya yang dilakukan pelaku IKM dalam menghadapi kenaikan TDL adalah dengan menaikkan harga jual produknya. Yanto, misalnya, pemilik usaha mesin jahit di Cimanggu, Bogor, itu menilai naiknnya tariff dasar listrik hanya akan merugikan industrik kecil. Sehingga mau tak mau Yanto terpaksa menaikkan harga jual produknya. Senada dengan Yanto, pengusaha kecil dan menengah di Yogyakarta Dwi Raharjo juga tidak menampik kemungkinan untuk menaikkan harga jual produknya. Dwi yang menekuni usaha pembuatan tas dan dompet daur ulang berlabel Bifa Collection mengatakan, mau tak mau harga produk yang dijual harus dinaikkan untuk menutup biaya produksi. Dwi menambahkan, jika tarif TDL naik, biasanya beberapa harga bahan baku dan ongkos transportasi juga akan ikut naik. Akhirnya, rakyat kecil juga sebagai end user (pengguna akhir) yang terkena imbasnya tanpa bisa berbuat apa-apa. #

0 Response to "Pemerintah Naikan Tarif Listrik, Usaha Kecil Makin Tertindas"

Post a Comment