Cara Rasulullah SAW Mencintai Anak Yatim

Selepas menunaikan shalat Idul Fitri, Rasulullah SAW bergegas pulang. Dalam perjalanan, Rasulullah SAW melihat anak-anak sedang bermain di halaman rumah. Tampak sangat riang sekali. Mereka bahagia menyambut hari kemenangan setelah sebulan berpuasa. Mereka berpakaian bagus dan baru. 

Rasulullah SAW memberi salam kepada anak-anak tersebut, spontan anak-anak itu pun langsung mengerubuti Rasulullah SAW, menyalami Sang Nabi Allah SWT.

Namun tak jauh dari sana, ada seorang anak sebaya duduk sendirian. Ia seperti menangis, matanya lebam berurai air mata. Tangisnya sesenggukan. Pakaiannya compang-camping, penuh tambalan dan sangat kotor.

Melihat anak itu, Rasulullah SAW menghampirinya, lalu beliau bertanya,”Mengapa engkau menangis, tidakkah engkau ingin bermain bersama teman-temanmu?” 

Ternyata anak itu belum tahu bahwa yang menyapanya itu adalah Nabi Allah SWT. Lalu dengan ekspresi wajah tanpa dosa, anak tersebut menjawab sambil menangis, ”Wahai laki-laki, ayahku telah meninggal dunia di hadapan Rasulullah SAW dalam sebuah peperangan. Lalu ibuku menikah lagi dan merebut semua harta warisan. Ayah tiriku sangat kejam. Ia mengusirku dari rumah. Sekarang aku kelaparan, tidak punya makanan, minuman, pakaian, dan rumah. Lalu hari ini aku melihat teman-teman semua berbahagia, karena semua mempunyai ayah. Sekarang aku teringat musibah yang menimpa Ayah. Karena itu aku menangis.”

Tak kuasa menahan haru mendengar cerita sedih itu, bulir-bulir air mata Rasulullah SAW langsung membasahi wajahnya. Langsung Rasulullah SAW pun memeluk anak tersebut, tak peduli bau dan kotornya pakaian anak itu. Rasulullah SAW pun mengusap-usap dan menciumi ubun-ubun kepalanya, terlihat seperti Ayah yang sedang menenangkan anaknya.

Rasulullah SAW pun berkata, ”Hai anak kecil, maukah engkau sebut aku sebagai ayah, dan Aisyah sebagai ibumu, Ali sebagai pamanmu, Hasan dan Husein sebagai saudara laki-lakimu, Fatimah sebagai saudara perempuanmu?” 

(Baca Juga : Cara Menjadi Orang Tua Asuh bagi Anak Yatim Binaan YMI di Pelosok Desa)

Terkejut, seketika raut wajah anak itu berubah. “Rupanya yang dihadapanku ini adalah Nabi mulia utusan Allah SWT,” begitu pikirnya dalam hati. Meski kaget, namun ia bahagia.  Lalu menyambutnya, ”Mengapa aku tidak mau, ya Rasulullah SAW?”

Lalu Rasulullah SAW membawanya pulang. Tiba dirumah, anak itu mandi, diberikannya pakaian yang bagus dan minyak wangi. Diajaknya makan bersama. Perlahan, raut wajah anak itu tampak merona, kemerahan tanda berbahagia. Lalu ia keluar dari rumah Rasulullah SAW dan bermain bersama teman-teman sebayanya.

Teman-temannya bertanya, ”Sebelumnya kamu selalu menangis. Mengapa sekarang kamu sangat gembira?” 

Dengan gembira anak itu menjawab, “Aku semula lapar, tapi sekarang sudah kenyang. Semula pakaianku jelek, sekarang berpakaian bagus. Sebelumnya aku yatim, sekarang Rasulullah SAW adalah ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husein saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah saudara perempuanku. Bagaimana aku tidak bergembira?”

”Seandainya ayah kami gugur di jalan Allah dalam peperangan itu, kami ingin menjadi seperti kamu,” kata beberapa temannya.

Namun kebahagiaan anak yatim tersebut tidak berlangsung lama. Tak lama berselang, beberapa saat setelah menunaikan haji wada, tepatnya pada hari Senin 12 Rabiul Awal 11 H (633 M) Rasulullah SAW wafat.

Sekarang aku menjadi anak yatim lagi,” ujar si anak sambil keluar dari rumah Rasulullah SAW dan menaburkan debu di kepalanya karena merasa sedih. #

Bersama YMI
Menyekolahkan Anak Yatim di Pelosok Desa
Ayo Jadi Orang Tua Asuh
CP : 0822.1109.2410

0 Response to "Cara Rasulullah SAW Mencintai Anak Yatim"

Post a Comment