Ghazwatul Iqtishodiyah (Perang Ekonomi)



Tidak ada satu kalimat pun dalam ajaran Islam yang mengajarkan seorang muslim hidup dalam kekurangan harta. Apalagi hidup pasif tanpa usaha dan selalu meminta-minta. Justru seorang muslim sesungguhnya harus terus berupaya mencari karunia Allah SWT, baik berupa perbendaharaan harta maupun penguasaan sumber daya, dalam rangka
mendapatkan keridhoan Allah SWT. Dengan cara demikian, maka setiap Muslim akan mampu berkontribusi secara finansial (pendanaan) guna memajukan kondisi ummat Islam di berbagai sektor kehidupan.

Dalam sejarah, kita bisa lihat bagaimana Abu Bakar r.a yang memberikan seluruh harta kekayaannya dalam perang tabuk. Tatkala Rasulullah SAW bertanya, “Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar menjawab, “Cukup Allah SWT dan Rasul-Nya.” Demikian pula dengan Abdurrahman bin Auf, saudagar Muslim terkaya di Madinah yang menyedekahkan begitu banyak hartanya untuk perjuangan Islam. Bila Abu Bakar dan Abdurrahman tidak memiliki kekayaan harta, tidaklah mungkin mereka bisa menyumbangkan sedekah sebanyak itu.

Memang, seorang Muslim boleh saja mengkondisikan dirinya dalam kesederhanaan bila memang ada alasan yang bisa menguatkan iman atau dalam rangka memberikan keteladanan. Sebagaimana Umar bin Khattab atau Salman Al-Farisi.

Mereka adalah contoh para pemimpin yang tidak terlena dengan jabatan yang diembannya. Salman Al-Farisi misalnya, sekalipun beliau memegang amanah sebagai gubernur, namun saat beliau wafat, pakaian yang digunakannya tidak kurang dari seratus tambalan.

Demikian pula Umar bin Khattab, tatkala protokoler kekhilafahan hendak mengganti piring makannya yang sudah kurang layak, Umar r.a menolak. Umar juga lebih suka berkeliling melihat kondisi rakyatnya, dan tidur di atas pelepah daun kurma.

Perilaku Umar bin Khattab dan Salman Al-Farisi adalah perilaku mulia yang dimiliki seorang pemimpin. Demikian juga dengan Abu Bakar maupun Abdurrahman bin Auf, kekayaan hartanya tidak menjadikan mereka sombong, namun justru memberikan andil luar biasa bagi perjuangan Islam, hingga ummat Islam mencapai kejayaannya.

Allah SWT berfirman,
“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah : 262).

Dalam konteks kekinian (dan ini mendesak), seharusnya ada di antara ummat Islam yang unggul dan mapan di bidang ekonomi, bisnis, perniagaan dan perdagangan. Sebagaimana telah diteladankan oleh Abu Bakar r.a dan Abdurrahman bin Auf seperti kisah diatas. Namun kenyataannya,  ummat Islam (khususnya di Indonesia) hari ini masih menjadi mangsa pasar negara-negara Industri, fakir dalam hal kepemilikan sumber daya, teknologi, dan produk berlevel Internasional, serta terbelakang dalam hal pendidikan dan ekonomi. Sulit menemukan muslim “sekaya dan sedermawan” Abu Bakar r.a ataupun Abdurrahman bin Auf. Bila sekarang ini disebut era “Global Economic War” atau “Ghazwatul Iqtishodiyah” (perang ekonomi), maka pertarungan tentulah berlangsung tidak seimbang.#

0 Response to "Ghazwatul Iqtishodiyah (Perang Ekonomi)"

Post a Comment