Abdurrahman Bin Auf, "Tunjukan kepadaku Pasar...."

Saat hijrah, semua orang tahu bahwa Abdurrahman bin Auf ditawari rumah, tanah, dan perkebunan secara cuma-cuma oleh kaum anshor, sebagai wujud persaudaraan muslim. Namun saudagar kaya itu dengan tegas menolak segala tawaran tersebut. Beliau hanya minta satu hal, “Tunjukkan kepadaku dimana pasar,” begitu ujarnya.

Mengapa Abdurrahman bin Auf menolak segala tawaran menggiurkan itu? Setidaknya ada dua hikmah yang bisa kita ambil. Pertama ia ingin mengatakan bahwa semua rezeki yang ia dapatkan hanya bergantung kepada Allah SWT lewat usaha yang ia lakukan. Kedua, Abdurrahman bin Auf ingin mengajarkan kepada kita bahwa seorang mukmin “haram” hukumnya menjadi pemalas. Ia punya skill (keahlian) yang baik di bidang bisnis, niaga ataupun perdagangan. Karena itu, beliau hanya minta ditunjukkan tempat perdagangan, yakni pasar.
 
Tidak begitu lama setelah itu, pasar di Madinah berhasil dikuasainya. Dalam sebuah riwayat dijabarkan bahwa, suatu ketika di Madinah terlihat debu tebal yang mengepul ke udara dari tempat ketinggian di batas kota, debu itu semakin tinggi bergumpal-gumpal hingga nyaris menutup pandangan mata.
 
Peristiwa itu menjadikan penduduk sempat salah tanggap. Dikira ada angin ribut yang akan menyapu dan menerbangkan pasir. Tak lama kemudian terdengarlah suara hiruk pikuk, yang memberi tanda bahwa ada kafilah besar yang sedang menuju pusat Madinah. Ternyata, tidak kurang dari 700 kendaraan yang sarat muatan memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Itulah kafilah Abdurrahman bin Auf.
 
Ternyata 700 kendaraan itu tak sampai kerumah Abdurrahman bin Auf. Segera beliau berkata, “Kafilah ini dengan semua muatannya berikut kendaraan dan perlengkapannya, kupersembahkan di jalan Allah SWT.” Lalu dibagikanlah seluruh hasil perniagaan Abdurrahman bin Auf itu kepada seluruh penduduk Madinah.#

0 Response to "Abdurrahman Bin Auf, "Tunjukan kepadaku Pasar....""

Post a Comment