KETIKA SI MISKIN DAN SI KAYA SAMA-SAMA SAKIT PERUT


Seorang Ulama bercerita dalam karyanya Orang Kaya dan Orang Miskin, ”Kemarin malam saya berpapasan dengan seorang laki-laki sengsara. Saya melihat ia sedang meletakkan tangan di atas perutnya seolah-olah ia menderita sakit. Saya kasihan padanya dan menanyakan apa yang dirasakannya. Ia mengeluh kelaparan sehingga perutnya sakit. Saya berikan kepadanya apa yang dapat saya berikan.”

Kemudian, sang ulama melanjutkan,”Saya pergi untuk mengunjungi seorang teman yang kaya dan senang. Saya kaget melihatnya sedang meletakkan tangan di atas perutnya seolah-olah ia menderita sakit seperti orang miskin tadi. Saya tanyakan apa yang sedang dirasakannya. Si kaya itu mengeluh sakit perut karena kekenyangan.”

Ya, dua kejadian ironis tersebut memperlihatkan masih sulitnya kita berbagi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan bantuan.  Di saat mereka  menderita kelaparan karena sudah berhari-hari tidak mendapatkan sepotong makanan, kita justru menjadi budak nafsu untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya makanan di meja makan kita dan memakannya tanpa kontrol. Padahal Rasulullah SAW bersabda, “Kami adalah ummat yang tidak makan sebelum lapar, dan berhenti sebelum kenyang.”

Andai saja si kaya mau memberi kelebihan makanannya kepada si miskin, tentulah kedua-duanya tidak akan mengeluh sakit perut. Tentu juga tak ada kecemburuan si miskin kepada si kaya yang berujung kepada keresahan sosial. Si kaya pun tak perlu khawatir dengan keberadaan si miskin. Ia tak perlu membuat pagar rumah yang sangat tinggi, tak perlu memelihara anjing “galak” untuk menjaga hartanya. Ya, jika saja kita mau berbagi, kita akan mendapatkan ketenangan, keseimbangan, dan kesejahteraan. Wallahu’alam.

0 Response to "KETIKA SI MISKIN DAN SI KAYA SAMA-SAMA SAKIT PERUT"

Post a Comment