Ibadah Haji, Korupsi dan Orang Miskin

Ibadah haji dan korupsi, seakan 2 hal yang sulit terpisahkan. Selama bertahun-tahun, LSM Antikorupsi ICW  melaporkan adanya dugaan korupsi dalam penyelenggaraan ibadah haji, diantaranya kenaikan ongkos haji yang tidak masuk akal, yaitu dari US$3844 menjadi US$4043.

Apalagi kesempatan berhaji saat ini semakin sulit karena terbatasnya kuota dan panjangnya daftar tunggu di Indonesia. Tercatat lebih 1 juta daftar antri jamaah calon haji di Indonesia, padahal kuota hanya sekitar 205 ribu per tahun. Keadaan ini menyebabkan berita tentang suap menyuap agar bisa mendapatkan porsi haji semakin marak. Nilai suap itu bisa 5-15 juta rupiah per orang. Kalau ditotal, jumlahnya bisa trilyunan.
Belum lagi urusan tiket pesawat, vaksin, perlengkapan haji, maktab, catering, transportasi yang tidak transparan kepada publik. Ini terjadi sudah belasan tahun dan semakin sulit memberantasnya. Pantaslah kalau begitu ada sebutan “Mafia Haji.”
Kalau diperhatikan dengan lebih cermat, kita tentu senang melihat suasana semarak dan haru yang mengiringi ribuan jama’ah haji berangkat setiap tahun. Namun ternyata, pada saat yang sama di pinggir jalan menuju bandara pemberangkatan haji, pemandangan kemiskinan begitu nyata dipelupuk mata. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, jumlah penduduk miskin mencapai 31,02 juta orang atau 13,33 persen dari jumlah penduduk.
Padahal, salah satu syarat dari diperbolehkannnya seseorang menunaikan haji adalah bahwa perjalanannya dalam keadaan aman dan tidak dalam kondisi perang. Jika dimaknai lebih dalam, di saat bangsa kita sedang mengalami “perang terhadap kemiskinan” yang cukup dahsyat, maka sesungguhnya siapapun “tidak layak” menunaikan ibadah haji berkali-kali karena negara dalam keadaan “darurat miskin.”
Bangsa yang ironis, ibadah haji tidak lagi dimaknai untuk keberkahan bagi penduduk negeri, tapi hanya sebagai kepuasan spiritual pribadi belaka. Wallahu’alam

0 Response to "Ibadah Haji, Korupsi dan Orang Miskin"

Post a Comment