Dari Dakwah Kampus ke Dakwah Kampung (Bagian 1)



“Waktu kuliah dulu, saat masih berkecimpung dalam dakwah kampus, sangat mudah untuk beraktifitas. Banyak waktu untuk bisa membuat kajian, seminar, ta’lim, studi Islam dan lain sebagainya. Semua jadi semarak karena semangat dan idealisme yang menggelora. Namun, saat telah lulus dan hidup ditengah masyarakat, jangankan untuk beraktifitas dakwah hingga kampung-kampung tertinggal di negeri ini, untuk mengurus diri sendiri dan keluarga saja sudah kedodoran.”

Demikian curahan hati (curhat) beberapa mantan aktifis dakwah kampus yang sudah selesai “berkuliah ria” dan hidup ditengah masyarakat yang heterogen dan beragam budaya. Sederetan masalah internal dan kepentingan pribadi telah menggiring mereka menjadi sangat pragmatis : “Yang penting gue dan anak-anak harus hidup sejahtera dulu, tak peduli yang lain.”

Dulu ketika di Kampus, status memang masih single dan tidak punya tanggungan apa pun, idealisme untuk menolong sesama dapat dilakukan tanpa pamrih. Namun sekarang, seiring dengan bertambahnya kewajiban untuk menghidupi istri dan anak-anak, waktu untuk melakukan aktifitas dakwah semakin sempit bahkan hilang sama sekali.

Keluh kesah ini sebenarnya tidak perlu terjadi, bila kita tetap mengingat bahwa dakwah kampus adalah latihan untuk aktifitas dakwah yang sesungguhnya di masyarakat. Tidak boleh kita lupa bahwa banyak orang-orang yang menanti manfaat dari kita yang telah mengenyam pendidikan tinggi. Itulah masyarakat sekitar kita, dan lebih jauh lagi, penduduk di ujung negeri sana, kampung-kampung di pelosok tertinggal.

Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. ” (HR. Bukhari).

Dakwah kampung, inilah tantangan sesungguhnya bagi para mantan aktifis dakwah kampus itu. Tentulah kita semua mengetahui bahwa kemiskinan itu sebagian besar ada di desa dan kampung. Bahkan jauh dipelosok desa dan kampung. Mereka hidup dengan segala keterbatasan, tidak ada ruang untuk mengakses informasi baik dalam hal meminjam dana untuk membuka usaha kecil, memperkaya ilmu untuk menambah keahlian, atau sekedar informasi tentang pentingnya kebersihan, menjaga kesehatan, memelihara sanitasi dan pembuangan sampah, juga kurangnya pengetahuan tentang pentingnya menyekolahkan anak-anak mereka.

Akibatnya, mereka meminjam dana dari rentenir untuk menyambung hidup, namun hidupnya justru berakhir karena terhimpit hutang. Rumah-rumah mereka jorok dan kumuh hingga mirip kandang hewan karena penuh dengan kecoa, lalat dan belatung-belatung. Mereka juga tak bisa menambah penghasilan karena tak ada keterampilan. Dan yang lebih parah lagi, anak-anak mereka dibiarkan saja putus sekolah, sehingga memperkuat julukan : ”Orang tua yang miskin akan melahirkan anak yang miskin.”

Itulah sebabnya, mengapa nikmat dakwah kampus perlu ditularkan hingga ke kampung-kampung dipelosok nusantara ini. Kalau berbagi keluhan biasanya secara spontan saja bisa dilakukan, tapi untuk berbagi nikmat, hanya orang-orang yang berharap ridho-Nya yang dapat melakukannya, apalagi berbagi untuk anak-anak yang jauh dipelosok kampung sana, yang jauh lebih miskin, dan jauh lebih lemah.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tulisan ini kami persembahkan untuk pembaca semua, khususnya untuk para orang tua asuh bagi anak-anak yatim desa, serta segenap Pengurus Yayasan Munashoroh Indonesia (YMI) yang sebagian besarnya adalah aktifis mahasiswa di Kampus dulu, dan sekarang telah merambah dakwahnya ke kampung-kampung. Alhamdulillah, sudah 11 pelosok desa dan kampung yang dibina YMI hingga saat ini.

0 Response to "Dari Dakwah Kampus ke Dakwah Kampung (Bagian 1)"

Post a Comment