Profil Anak Asuh Terbaik (ke-4) Munashoroh

EGGI, TETAP GIGIH MESKI DITINGGAL AYAH DAN IBUNYA

Tidak banyak orang yang bisa keluar dari tekanan hidup, baik karena himpitan ekonomi, masalah keluarga (perceraian orang tua) atau musibah beruntun kehilangan  sosok ayah dan ibu. Namun hal ini tidak berlaku bagi Eggi, seorang anak desa berusia 13 tahun yang mampu keluar dari tiga kesulitan itu sekaligus.

Tekanan hidup yang pertama datang ketika Eggi masih balita. Saat itu, Eggi kecil yang berusia 3 bulan sudah ditinggal pergi sang ayah. Dengan segala keterbatasan, Ibunya Eggi berupaya membesarkan putri sulungnya tersebut. Karena belum mencukupi kebutuhan sehari-hari, sang Ibu akhirnya membawa Eggi tinggal bersama kakek dan neneknya. Kebetulan sang kakek juga punya sedikit penghasilan dari pekerjaannya sebagai buruh supir.

Tekanan terhadap kehidupan Eggi terus berlanjut. Di usia 3 tahun, Eggi ditinggal pergi Ibunya yang melancong ke Jakarta mencari pekerjaan. Tak lama kemudian, sang kakek meninggal dunia akibat penyakit kanker yang dideritanya. Sejak saat itu ekonomi keluarga Eggi semakin terpuruk, harapan satu-satunya adalah lewat penghasilan sang Ibu yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta.

Permasalahan ternyata tidak berhenti disana. Selang beberapa tahun kemudian, Eggi harus menerima kenyataan bahwa sang Ibu memilih untuk menikah lagi. Sejak itu sehari-hari Eggi hanya ditemani sang nenek yang tetap setia menopang kehidupan Eggi. Meski ada beberapa kali ada bantuan uang dari Ibu dan Pamannya, itu belum mencukupi karena biaya kebutuhan hidup yang semakin besar.

Semua kesusahan itu tak membuat putri dari pasangan Engkos dan Enok ini patah semangat. Meski beberapa kali menemui kesulitan dalam urusan biaya sekolah, tak menjadikan Eggi berhenti sekolah. Apalagi sejak tahun 2010 Eggi mengikuti program anak asuh Yayasan Munashoroh Indonesia (YMI). Eggi disekolahkan oleh YMI dan ikut serta dalam Sekolah Qur’an yang diselenggarakan YMI.

Kegigihan Gadis Desa Cibagolo Pandeglang ini tercermin dari prestasi demi prestasi yang diukirnya, baik di Sekolah Formal (Madrasah Tsanawiyah) maupun di Sekolah Qur’an Munashoroh tersebut. Dengan nilai bahasa Inggris 90 dan nilai matematika yang nyaris sempurna, siswi kelas 2 MTs ini menempati rangking 2 dari 36 siswa di MTs tersebut. Ditambah dengan hafalan qur’an terbanyak diantara anak-anak asuh lain, serta tingkat kehadiran di sekolah qur’an 100%, Eggi terpilih menjadi anak asuh Terbaik di seluruh desa binaan YMI (Jawa Barat dan Banten) pada tahun 2010 lalu, dan menjadi Terbaik ke-4 pada tahun 2011. Selamat Berprestasi Eggi.
*Kisah ini ditulis langsung oleh Orang Tua Asuh dari Eggi (nama dan alamat ada di redaksi).

0 Response to "Profil Anak Asuh Terbaik (ke-4) Munashoroh"

Post a Comment