Kenapa sih Harus Haji Berkali-kali? (Disaat orang miskin masih Banyak....)

Indonesia kita memang luar biasa. Dari yang punya penghasilan Rp.200 ribu per bulan sampai yang punya penghasilan Rp.200 juta per bulan. Mulai dari orang yang punya uang hanya untuk makan hari ini saja, sampai orang yang punya harta bisa digunakan untuk tujuh turunan (dan tujuh tanjakan...). Termasuk orang yang bisa pergi haji berkali-kali sampai orang yang hanya bisa mimpi naik haji saja - mimpi juga sudah bagus.

Semua ada disini, di negeri kita. Sekarang ini orang yang mau naik haji mesti masuk daftar waiting list dulu, daftar dan bayar tahun ini, bisa jadi pergi hajinya 3 tahun lagi. Disisi lain, ada orang islam didunia yang berjumlah 830 juta orang (menurut Organisasi Pangan Dunia-FAO), yang masih sangat miskin. 'Bila mereka kerja hari ini, baru bisa makan 3 hari lagi.'

H. AM. Romli, Kepala Kanwil Departemen Agama Provinsi Banten, mengatakan, ”Minat masyarakat dalam menunaikan ibadah haji di seluruh tanah air setiap tahun terus meningkat. Contohnya di Provinsi Banten, pada tahun 2007 jumlah calon haji sudah melebihi kuota sehingga yang mendaftar pada 2007 baru bisa berangkat tahun 2009.”

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan salah satu lembaga pemerintahan Arab Saudi, setiap tahunnya tidak kurang dari 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 55 triliun uang yang dikeluarkan oleh umat muslim diseluruh dunia, hanya untuk membiayai kegiatan ibadah haji yang wajib hanya satu kali saja.

Ibaratnya begini. Haji satu kali itu wajib, tapi pergi haji berkali-kali itu, tidak pernah dicontohkan Rasulullah SAW, meski beliau SAW memiliki kesempatan haji sebanyak 5 kali semasa hidupnya.

Namun bila dana untuk pergi haji kedua, ketiga dan seterusnya itu dipakai untuk bersedekah, memang hukum sedekah itu adalah sunnah, sekali ataupun berkali-kali. Tapi manfaatnya akan jauh lebih besar, baik untuk dirinya sendiri maupun rakyat miskin yang ia santuni. Ini salah satu keutamaannya : Sedekah itu Menolak Bala, seperti sabda Rasulullah SAW, ”Obatilah orang-orang sakit kalian dengan sedekah.” (HR. Ahmad), dan sedekah itu meningkatkan keberkahan harta, sebagaimana Firman Allah SWT, “Perumpamaan nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menginfaqkan hartanya dijalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki...” (QS. Al-Baqarah : 261)

Keutamaan untuk warga miskin juga akan jauh lebih besar, karena dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk membangun warung sembako murah untuk dhuafa, merenovasi sarana pendidikan yang rusak, mendirikan sarana ibadah, pondok pesantren dan lainnya, ketimbang dipakai membiayai keberangkatan ibadah haji yang kedua, ketiga dan seterusnya.

Itulah mengapa Jabir bin Zaid pernah mengatakan, “Aku lebih suka bersedekah satu dirham kepada anak yatim atau orang miskin daripada menunaikan ibadah haji setelah haji wajib.” (Hilyatul Auliya’: 3/89).

Adhi Azfar